Tampilkan postingan dengan label fiqh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiqh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Februari 2017

Hukum Wanita Haid Mengirimkan Fatihah Untuk Orang Tua

PERTANYAAN :
Mau bertanya ustad, begini apakah boleh orang yang sedang haid mengirim Al- Fatehah kepada orang tuanya yang sudah meniggal?

Minggu, 26 Februari 2017

Hukum Masturbasi

Assalamualaikum Wr Wb
Kepada : Forsan Salaf
Saya pernah ngobrol2 dengan teman masalah hubungan suami istri. Salah satu teman saya membaca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa  “perempuan lebih dapat merasakan kenikmatan hubungan seks dengan menggunakan alat seks (vibrator)”. Pertanyaan kami adalah bagaimana hukumnya? dan bagaimana hukumnya perempuan masturbasi tetapi dengan suaminya?
Sukron, Wassalamuálaikum Wr Wb

Jumat, 24 Februari 2017

Hukum Membunuh Hewan Untuk Eksperimen

Pertanyaan:
Bagaimana hukum mengadakan eksperimen atau percobaan dengan memanfaatkan hewan seperti tikus, kera, babi, kelinci dan lainnya, dalam proses pemberian pelajaran teori tentang sebab penyakit dan cara penyembuhannya pada Fakultas Kedokteran yang mengakibatkan pembunuhan yang disengaja terhadap sejumlah besar hewan yang tidak dihormati agama?

Senin, 20 Februari 2017

Bekerja di Luar Negeri Apakah Wajib Shalat Jum'at?

Pertanyaan :

Apa orang yang bekerja di Malaysia bertahun-tahun masih dihukumi musafir.?
Bagaimana hukumnya tidak Shalat Jum’at selama di Malaysia, sedangkan kita bermadzhab kepada Imam Syafi’i.?

Patungan Untuk Qurban, Sahkah?

Pertanyaan :
Ustadz, mau tanya. Sahkah berkurban dari uang patungan?

Sabtu, 18 Februari 2017

Bekerja Pada Pelaku Bunga Riba

Pertanyaan :
Bagaimana hukumnya apabila kita bekerja (misal memperbaiki rumah) pada seseorang yang nyata-nyata orang tersebut membungakan uang? Sukron atas jawabannya.

Jawaban :
Hukumnya adalah sama seperti bermu’amalah dengan seorang yang kebanyakan hartanya haram, perinciannya sebagai berikut:
* Haram, jika mengetahui dengan yakin bahwa upah yang diterima dari orang tersebut adalah hasil riba.
* Makruh, jika ragu-ragu apakah yang uang yang ia dapat dari hasil riba ataukah dari penghasilan lain yang halal.
Namun menurut pendapat Imam Al-Ghozali hukumnya haram secara mutlak. Baik yakin atau ragu.
Oleh karena itu, jika ada pekerjaan yang lain maka itu lebih selamat.
Referensi:
إعانة الطالبين – )ج 3 / ص 21(
)قوله: لآكل الربا) هو متناوله بأي وجه كان، واعترض بأنه إن أراد بالربا المعنى اللغوي – وهو الزيادة – فلا يصح، لقصوره على ربا الفضل.وأيضا يقتضي أن اللعن على آكل الزيادة فقط، دون باقي العوض.وإن أريد بالربا العقد، فغير ظاهر، لانه لا معنى لاكل العقد وأجيب باختيار الثاني، وهو على تقدير مضاف، والتقدير: آكل متعلق الربا، وهو العوض.اه.بجيرمي.(قوله: وموكله) هو الدافع للزيادة.(قوله: وكاتبه) أي الذي يكتب الوثيقة بين المرابين، وأسقط من الحديث: الشاهد، وكان عليه أن يصرح به
تحفة المحتاج في شرح المنهاج – )ج 41 / ص 275(
)فَرْعٌ ) يُسَنُّ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَتَحَرَّى فِي مُؤْنَةِ نَفْسِهِ وَمُمَوِّنِهِ مَا أَمْكَنَهُ فَإِنْ عَجَزَ فَفِي مُؤْنَةِ نَفْسِهِ وَلَا تَحْرُمُ مُعَامَلَةُ مَنْ أَكْثَرُ مَالِهِ حَرَامٌ وَلَا الْأَكْلُ مِنْهَا كَمَا صَحَّحَهُ فِي الْمَجْمُوعِ وَأَنْكَرَ قَوْلَ الْغَزَالِيِّ بِالْحُرْمَةِ مَعَ أَنَّهُ تَبِعَهُ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ

الشَّرْحُ
)قَوْلُهُ : يُسَنُّ لِلْإِنْسَانِ إلَخْ ) عِبَارَةُ الْمُغْنِي قَالَ فِي الذَّخَائِرِ إذَا كَانَ فِي يَدِهِ حَلَالٌ وَحَرَامٌ أَوْ شُبْهَةٌ وَالْكُلُّ لَا يَفْضُلُ عَنْ حَاجَتِهِ قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ يَخُصُّ نَفْسَهُ بِالْحَلَالِ فَإِنَّ التَّبِعَةَ عَلَيْهِ فِي نَفْسِهِ آكَدُ ؛ لِأَنَّهُ يَعْلَمُهُ وَالْعِيَالُ لَا تَعْلَمُهُ ثُمَّ قَالَ وَاَلَّذِي يَجِيءُ عَلَى الْمَذْهَبِ ، أَنَّهُ وَأَهْلُهُ سَوَاءٌ فِي الْقُوتِ وَالْمَلْبَسِ دُونَ سَائِرِ الْمُؤَنِ مِنْ أُجْرَةِ حَمَّامٍ وَقِصَارَةِ ثَوْبٍ وَعِمَارَةِ مَنْزِلٍ وَفَحْمِ تَنُّورٍ وَشِرَاءِ حَطَبٍ وَدُهْنِ سِرَاجٍ وَغَيْرِهَا مِنْ الْمُؤَنِ ا هـ .
)قَوْلُهُ وَلَا تَحْرُمُ إلَخْ ) عِبَارَةُ الْمُغْنِي وَلَوْ غَلَبَ الْحَرَامُ فِي يَدِ السُّلْطَانِ قَالَ الْغَزَالِيُّ حَرُمَتْ عَطِيَّتُهُ وَأَنْكَرَ عَلَيْهِ فِي الْمَجْمُوعِ وَقَالَ مَشْهُورُ الْمَذْهَبِ الْكَرَاهَةُ لَا التَّحْرِيمُ مَعَ ، أَنَّهُ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ جَرَى عَلَى مَا قَالَهُ الْغَزَالِيُّ ا هـ
تحفة المحتاج في شرح المنهاج – )ج 29 / ص 148(
)فَرْعٌ ) قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ عَنْ الشَّيْخِ أَبِي حَامِدٍ وَأَقَرَّهُ يُكْرَهُ الْأَخْذُ مِمَّنْ بِيَدِهِ حَلَالٌ وَحَرَامٌ كَالسُّلْطَانِ الْجَائِرِ وَتَخْتَلِفُ الْكَرَاهَةُ بِقِلَّةِ الشُّبْهَةِ وَكَثْرَتِهَا ، وَلَا يَحْرُمُ إلَّا إنْ تَيَقَّنَ أَنَّ هَذَا مِنْ الْحَرَامِ الَّذِي يُمْكِنُ مَعْرِفَةُ صَاحِبِهِ أَيْ : لِيَرُدَّهُ عَلَيْهِ ، وَإِلَّا فَبَدَلَهُ

Qodho Shalat

PERTANYAAN
Dari : yoyok wey
Kota : pacitan
Isi Pertanyaan :
Assalamu ‘alaikum. Seorang wanita sakit slm 6 bln lalu mninggal, selama itu ia mninggalkan shalat 5 waktu. Bolehkah teman2nya “mmbayar hutang” shalatnya? Bgmn tehnis pelaksanaanya? Bolehkan dilakukan oleh banyak orang? Trm kasih. Wassalam
Jawaban :
Waalaikum salam,,,
Pertanyaan yang baik sekali.
Jika kita menelaah literatur salaf, ada beberapa pendapat ulama dalam masalah ini.
Pendapat terkuat menyatakan tidak perlu dan tidak bisa diqodhoi dengan sudut pandang bahwa shalat adalah ibadah mahdhoh yang teknis pelaksanaannya tidak bisa diwakilkan. Maka ketika yang bersangkutan meninggal pun tidak diperkenankan bagi yang lain untuk mengqodhoi.
Pendapat kedua menyatakan bisa diqodhoi oleh keluarganya disamakan dengan diperbolehkannya qodho puasa. Inilah yang diamalkan oleh Imam Subkiy ketika salah satu keluarganya ada yang meninggal.
Pendapat ketiga menyatakan bisa pula diganti dengan membayar fidyah sebanyak satu mud (sekitar 7-8 ons) per shalat yang ia tinggalkan.
Nah jika kita mau mengqodhoi maka itu boleh menurut pendapat kedua yang diamalkan oleh Imam Subkiy. Maka teknis pelaksanaannya adalah jumlah shalat yang ditinggalkan dibagi rata kepada keluarga yang siap membantu qodhonya. Shalat tersebut diniatkan untuk mengqodhoi shalat orang yang telah meninggal. Nah jika ada orang lain yang bukan keluarganya maka harus seizin dari keluarganya tersebut. Wallohu A’lam
Referensi
)فائدة ) من مات وعليه صلاة فلا قضاء ولا فدية وفي قول كجمع مجتهدين أنها تقضى عنه لخبر البخاري وغيره ومن ثم اختاره جمع من أئمتنا وفعل به السبكي عن بعض أقاربه ونقل ابن برهان عن القديم أنه يلزم الولي إن خلف تركة أن يصلى عنه كالصوم وفي وجه عليه كثيرون من أصحابنا أنه يطعم عن كل صلاة مدا وقال المحب الطبري يصل للميت كل عبادة تفعل واجبة أو مندوبة

Kamis, 16 Februari 2017

Nikah Tanpa Saksi


Assalamu’alaikum
1. Bagaimana hukum nya seorang gadis menikah tanpa saksi anggota keluarganya krn  berada di LN ?
2. Bagaiamana status hukum fikih si naib atau yang menikahkan apa boleh / termasuk dosa apa tidak ?
Jawab :
Waalaikum salam warrohmah
Syarat sahnya nikah adalah adanya wali dan 2 orang saksi. Suatu pernikahan tanpa kehadiran seorang wali atau wakil dari wali perempuan dan  2 orang saksi yang adil adalah tidak sah. Sebagaimana dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Jubair :.

عن سعيد بن جبير عن ابن عباس رضى الله عنهما قال:  قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  لَا نِكَاحَ إلَّا بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْل. رواه ابن حبان.

ٍDiriwayatkan dari Sa’id bin Jubair dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda: “ Tidak sah pernikahan tanpa wali dan  dua  orang saksi yang adil “ HR. Ibnu Hibban
Dalam persyaratan dua orang saksi, tidak disyaratkan harus dari pihak keluarga (baik keluarga laki laki atau perempuan). Akan tetapi dua orang saksi itu bisa dari pihak keluarga ataukah orang lain selama memenuhi persyaratan sebagai seorang saksi yaitu harus orang laki laki, muslim, baligh, berakal, merdeka, adil, dll. Jika salah satu dari persyaratan tersebut tidak terpenuhi, maka pernikahannya tidak sah. [1]
Dalam persyaratan wali nikah, harus mendahulukan wali khos daripada wali ‘am. Wali khos disini yaitu kerabat laki-laki dari perempuan yang berhak mendapat ashabah (hak sisa) dalam warisan secara berurutan yaitu : bapak, kakek (dari sisi bapak), saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki sebapak, anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung lalu sebapak, paman (saudara bapak sekandung lalu sebapak), anak laki-laki paman dan seterusnya. Sedangkan wali ‘am dari seorang perempuan adalah hakim atau sulthan daerah setempat. [2]
Seorang wali ‘am (hakim agama setempat) baru bisa menikahkan seorang perempuan dan akad nikahnya akan sah, jika tidak ada wali khosnya, baik karena meninggal dunia atau jauh dari tempat perempuan tersebut yang mencapai 2 marhalah (± 82 KM). Seperti berada di luar negeri, maka diperbolehkan untuk menikahkannya dengan memenuhi persyaratan harus menikahkan dengan laki-laki yang kufu’ (sederajat) dengan perempuan tersebut : [3]
Boleh saja mengangkat seseorang yang bukan hakim agama untuk menempati posisi hakim (muhakkam) untuk menikahkannya, dengan persyaratan sebagai berikut :
  1. Tidak ada hakim setempat, atau ada tapi memungut biaya kepada calon mempelai [4]
  2. Jarak antara perempuan tersebut dengan walinya mencapai 2 marhalah (± 82 KM)
  3. Harus seorang yang kompeten dalam ilmu fiqh (khususnya tentang akad nikah) dan layak untuk menjadi seorang hakim, kecuali jika tidak ditemukan maka boleh mengangkat orang yang adil.
  4. Mewakilkan setiap dari calon suami dan calon istri untuk menjadi muhakkam, lalu calon istri memberikan izin kepada muhakkam tersebut untuk menikahkannya dengan calon suaminya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa seseorang yang telah ditunjuk untuk menikahkan, tapi tanpa memenuhi persyaratan nikah seperti tanpa wali atau saksi, maka tidak diperbolehkan untuk menikahkan walaupun dia seorang hakim. Seorang hakim ataupun muhakkam dituntut pula untuk memenuhi persyaratan  dalam pernikahan yang akan dilakukan. Hal ini sangat penting demi menjaga agar pernikahan itu sah dan menjadi halal, sehingga pelakunya tidak terjerumus ke perzinaan yang tidak mereka sadari akibat akad nikah yang salah dan tidak sah. [5]

تحفة المحتاج في شرح المنهاج  – (ج 43 / ص 452) [  ] 1

( شرط الشاهد ) أوصاف تضمنها قوله ( مسلم حر مكلف عدل ذو مروءة غير متهم ) ناطق رشيد متيقظ فلا تقبل شهادة أضداد هؤلاء ككافر ولو على مثله ؛ لأنه أخس الفساق وخبر { لا تقبل شهادة أهل دين على غير دينهم إلا المسلمون فإنهم عدول على أنفسهم وعلى غيرهم } ضعيف وقوله تعالى { أو آخران من غيركم } أي : من غير عشيرتكم أو منسوخ بقوله { وأشهدوا ذوي عدل منكم } ولا من فيه رق لنقصه ومن ثم لم يتأهل لولاية مطلقا ولا صبي ومجنون إجماعا ولا فاسق لهذه الآية وقوله { ممن ترضون } وهو ليس بعدل ولا مرضي واختار جمع منهم الأذرعي والغزي وآخرون قول بعض المالكية أنه إذا فقدت العدالة وعم الفسق قضى الحاكم بشهادة الأمثل فالأمثل للضرورة ورده ابن عبد السلام بأن مصلحته يعارضها مفسدة المشهود عليه ولأحمد رواية اختارها بعض أئمة مذهبه أنه يكفي ظاهر الإسلام ما لم يعلم فسقه ولا غير ذي مروءة ؛

[2] تحفة المحتاج في شرح المنهاج  – (ج 29 / ص 470)

( وأحق الأولياء ) بالتزويج ( أب ) ؛ لأنه أشفقهم ( ثم جد ) أبو الأب ( ثم أبوه ) ، وإن علا لتميزه بالولادة ( ثم أخ لأبوين ، أو لأب ) أي ثم لأب كما سنذكره لإدلائه بالأب ( ثم ابنه ، وإن سفل ) كذلك ( ثم عم ) لأبوين ثم لأب ( ثم سائر العصبة كالإرث )

عمدة المفتى والمستفتى 3/89

فان امتنع من مباشرة العقد بنفسه والتوكيل زوجها القاضى ولا يجوز لها ان تولى امرها خالها او غيره ن الولي اذا عضل او تعذرت مراجعته لخوف فتنة انتقلت الولاية للسلطان والقاضىوالمراد بالقاضى حيث اطلق من ولاه الامام فى تلك الناحية , اما من يتعاطى فصل الحصومات من غير تولية من الامام فحكمه كاحاد الناس وحيث خلت الجهة من حاكم مولى من الامام الاعظم فللمرأة ان تولي امرها عدلا حرا توليه هي وخاطبها امرها ليزوجها منه .

عمدة المفتى والمستفتى 3/98

قال فى التحفة فى مبحث اولياء النكاح السلطان هنا وفيما مر ويأتى من شملتهما ولايته عاما او خاصا كالقاضى والمتولى عقود الانكحة قال شيخنا فالمراد بالسلطان فى كلامهم متولى احكام تلك البلاد ولو متغلبا كما يفيده كلام الاشخر فى فتاويه.

[3] بغية المسترشدين / 206

(مسئلة ش) غاب وليها مرحلتين من بلدها فأذنت للحاكم يعني الذي شمل حكمه لبلدها وان لم يكن بها صح وان قرب من محل الولي او كانا في بلد واحدة بل وان كان القاضي المذكور ابعد من محل الولي الى المرأة لأن العلة وهي غيبة الولي التي هي شرط لثبوت ولاية الحاكموجدت ولا عبرة بالمشقة وعدمها

عمدة المفتى والمستفتى 3/97

قال شيخنا فان لم يثبت وجود القريب او كان لكن بينه وبين بلد العقد مرحلتان فاكثر فالنكاح صحيح بشرط ان يكون الزوج كفؤا للمرأة  فان لم يعرف انه كفء او غير كفء  فالنكاح باطل كما يفيده كلامهم. الى ان قال : قال فى التحفة وعلى القول الاول اى الاصح وهو ان المرأة اذا طلبت من القاضى ان يزوجها بغير كفء لم يجبها فهل لها أن تحكم عدلا ويزوجها حينئذ للضرورة او يمتنع عليه كالقاضي محل النظر, ولعل الاول أقرب إن لم يكن  في البلد حاكم يرى ذلك, لئلا يؤدي ذلك إلى فسادها ولانه ليس كالنائب, ثم رأيت جمعا بحثوا أنها لولم تجد كفأ وخافت العنت لزم القاضي إجابتها قولا واحدا للضرورة, كما أبيحت الامة لخائف العنة وهو متجه مدركا, والذي يتجه نقلا ما ذكرته أنه إن كان في البلد حاكم يرى تزويجها من غير الكفوء تعين , فإن فقد ووجدت عدلا تحكمه ويزوجها تعين, فإن فقد تعين ما بحثه هؤلاء . وقوله : ولعل الاول أقرب جرى عليه الرملي في النهاية .

[4] فتح المعين – (ج 3 / ص 365)

قال شيخنا: نعم إن كان الحاكم لا يزوج إلا بدراهم، كما حدث الآن – فيتجه أن لها أن تولي عدلا مع وجوده وإن سلمنا أنه لا ينعزل بذلك بأن علم موليه ذلك منه حال التولية.انتهى.

مجموع فتاوى السيد عبد الله بن عمر بن يحي / 279

(مسئلة) ما قولكم في بلدة ليس فيها حاكم ولا قاض والولي الأقرب غائب، هل يجوز للولي الأبعد ان ينكجها او لها ان تحكم شخصا فان قلتم لها ان تحكم عدلا فكيف كيفية التحكيم ولفظه وصيغته وهل يجوز لها ان توكل غيرها ؟

(الجواب) اذا غاب الولي مسافة القصر وهو اهل للولاية انتقلت الولاية الى الحكم لا للأبعد فان وجدت حاكما في بلدها ولو حاكم ضرورة لم يجز لها ان تحكم الا فقيها يصلح للقضاء، وان لم في بلدها حاكم فان كان في محل بينه وبينها اقل من مرحلتين لم يصح لها ان تحكم الا فقيها يصلح للقضاء ايضا وان فقدت الحاكم في بلدها وكل محل بينها وبينه مرحلتان فان كان في البلد او في المرحلتين فقيه صالح للقضاء لم يجز لها ان تحكم غيره وان يكن فقيه صالح لذلك جاز لها ان تحكم عدلا.

هذا حاصل المعتمد في هذه المسئلة من كلام طويل لهم فيها . ةاما صيغة التحكيم  فهي ان يقول كل واحد من الزوجين للمحكم ” حكّمتك ان تزوجني من فلان ” ويسمى صاحبه ويقول المحكم ” قبلتُ التحكيم ” ةان لم يقل ذلك ولم يردّ صح على خلاف قوي فيه، ثم بعد تحكيمهما وقبوله تأذن المرأة له في تزويجها من الرجل المحكم ويجوز التوكيل في التحكيم كسائر العقود والله اعلم.

[5] بغية المسترشدين / 207

(مسئلة) اتى رجل الى الحاكم يريد التزوج بامرأة وادعى انها اذنت لوليها الغائب وان وليها وكل الحاكم ةفي ذلك لم يصح تزويج الحاكم الا بعد ثبوت ذلك على المعتمد، نعم ان كان وايها بمسافة القصر وهي بمحل ولاية الحاكم واذنت لع صح تزويجه فان ةطئ 

حيث قلنا ببطلانه قشبهة كما لو زوجها بلا ولي او شهود


sumber: forsansalaf.com

Selasa, 14 Februari 2017

Nikah Via Telepon


Assalamualaikum
Saya mau bertanya jika seorang perempuan mau menikah sang ayah meninggal dunia gimana susunan pemindahan pewalian ke saudara kandung apa ke saudara ayah perempuan dan gimana hukumnya perwalian lewat telepon genggam terima kasih atas jawabannya.
Ja’far Al-Aidrus (Kalsel)
Jawab :
Wali perempuan dalam pernikahan yaitu kerabat laki-laki perempuan yang berhak mendapat ashabah (hak sisa) dalam warisan. Secara berurutan dari yang paling dekat yaitu : ayah, kakek (dari sisi ayah), saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki seayah, anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung, anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah, paman (saudara ayah sekandung), paman (saudara ayah seayah), anak laki-laki paman sekandung lalu anak laki-laki paman seayah dan seterusnya.[1]
Yang paling berhak untuk menjadi wali nikah yaitu yang memenuhi persyaratan sebagai wali dan yang terdekat sesuai urutan diatas. Jika yang lebih dekat tidak ada atau ada tapi tidak memenuhi persyaratan maka perwalian berpindah kepada yang lebih jauh. Jika seorang ayah telah meningal dunia, atau masih hidup tapi tidak memenuhi persyaratan seperti : beragama lain (bukan muslim) atau gila maka perwalian berpindah ke derajat dibawahnya yaitu kakek, tapi jika kakek juga tidak ada maka berpindah ke saudara laki-laki sekandung dan seterusnya sesuai urutan diatas.[2]
Jika dalam satu derajat terdapat lebih dari satu seperti antara para saudara laki-laki atau antara para paman, maka yang paling berhak untuk menjadi wali yaitu:
  • Jika pengantin perempuan memberikan izin kepada semua wali (seperti kepada semua saudara laki-lakinya) secara umum, maka yang melakukan akad nikah yaitu orang yang telah disepakati oleh semua wali walaupun bukan salah satu dari wali pengantin perempuan tersebut.
  • Jika pengantin perempuan memberikan izin kepada setiap wali yang sederajat secara khusus, maka boleh bagi setiap wali untuk melangsungkan akad nikah walaupun tanpa seizing dari wali yang lainnya. [3]
Adapun jika mendahulukan yang lebih jauh padahal yang lebih dekat dan memenuhi persyaratan masih ada, maka pernikahannya tidak sah,
Persyaratan seorang wali nikah yaitu : [4]
  • Beragama Islam, jika menjadi wali nikah dari seorang muslimah.
  • Baligh
  • Berakal
  • Merdeka (bukan seorang budak)
  • Adil dll
Hukum akad nikah dengan menggunakan telepon atau surat tidak sah karena tergolong Kinayah (tidak jelas dan masih memungkinkan maksud lainnya) sehingga dibutuhkan niat akad nikah. Hal ini tidak memungkinkan bisa disaksikan oleh orang yang hadir dalam pernikahan, karena niat termasuk urusan hati yang tidak nampak dengan kasat mata. Padahal termasuk persyaratan nikah yaitu adanya dua orang saksi yang bisa menyaksikan akad nikah tersebut. [5]
Oleh karena itu hukum pernikahan dengan cara ini tidak sah, kecuali jika perwakilannya saja maka sah, karena dalam akad Wakalah (perwakilan) boleh menggunakan Kinayah [6]

[1] المفتاح في النكاح /16-17

(الولي في النكاح واحق الأولياء بالتزويج)

اولى اللأولياء واحقهم بالتزويج الأب ثم الجد ابو الأب وان علا ثم الأخ الشقيق ثم ثم الأخ لأب ثم ابن الأخ الشقيق ثم ابن الأخ لأب وان سفل ثم العم الشقيق ثم العم لأب ثم ابن العم الشقيق ثم ابن العم لأب وان سفل ثم عم الأب ثم ابنه وان سفل ثم عم الجد ثم ابنه وان سفل ثم عم ابي الجد ثم ابنه وان سفلوهكذا على هذه الترتيب في سائر العصبات، ويقد الشقيق منهم على من كان لأب، فاذا لم يوجد احد من عصبات النسب فالمعتق فعصبته ثم معتق المعتق ثم عصبته ثم الحاكم او نائبه

تحفة المحتاج في شرح المنهاج  – (ج 29 / ص 470)


( وأحق الأولياء ) بالتزويج ( أب ) ؛ لأنه أشفقهم ( ثم جد ) أبو الأب ( ثم أبوه ) ، وإن علا لتميزه بالولادة ( ثم أخ لأبوين ، أو لأب ) أي ثم لأب كما سنذكره لإدلائه بالأب ( ثم ابنه ، وإن سفل ) كذلك ( ثم عم ) لأبوين ثم لأب ( ثم سائر العصبة كالإرث )


[2] & [4] المفتاح في النكاح /18

واما شروط الولي فمنها كونه مسلما ان كانت الزوجة مسلمة، وكونه بالغا عاقلا حرا رشيدا عقلا. فان اختل شرط من هذه الشروط فلا حق له في الولاية بل لمن بعده من الأولياء اي لمن يليه في الدرجة ان لم يوجد من يساويه.

]3[ المفتاح في النكاح /18

حكم ما اذا استوى اولياء النكاح في الدرجة كإخوة اشقاء او لأب او اعمام مثلا   فيزوجها منهم من اذنت له المرأة في تزويجها ، فان اذنت لهم كلهم فلا بد من اجتماعهم على التزويج او توكيل احدهم او توكيلهم جميعا شخصا اجنبيا به، اما اذا اذنت لكل واحد منهم في نكاحها فلكل منهم مباشرة العقد ولو بدون اذن الباقين.


[5] حواشي الشرواني – (ج 4 / ص 222)


(وفارق النكاح) أي حيث لم ينعقد بالكناية اه.

ع ش عبارة المغني وينعقد بالكناية مع النية سائر العقود وإن لم يقبل التعليق والنكاح وبيع الوكيل المشروط فيه الاشهاد لا ينعقدان بها لان الشهود لا يطلعون على النية نعم إن توفرت القرائن عليه في الثانية قال الغزالي فالظاهر انعقاده وأقره عليه في أصل الروضة وهو المعتمد خلافا لما جرى عليه صاحب الانوار من عدم الصحة اه.

قوله: (والكتابة الخ) ومثلها خبر السلك المحدث في هذه الازمنة فالعقد به كناية فيما يظهر

أسنى المطالب  – (ج 14 / ص 319)


( وَلَا يَنْعَقِدُ بِكِنَايَةٍ ) إذْ لَا مَطْلَعَ لِلشُّهُودِ عَلَى النِّيَّةِ ، وَالْمُرَادُ الْكِنَايَةُ فِي الصِّيغَةِ أَمَّا فِي الْمَعْقُودِ عَلَيْهِ فَيَصِحُّ فَإِنَّهُ لَوْ قَالَ زَوَّجْتُك ابْنَتِي فَقَبِلَ وَنَوَيَا مُعَيَّنَةً صَحَّ كَمَا سَيَأْتِي مَعَ أَنَّ الشُّهُودَ لَا مَطْلَعَ لَهُمْ عَلَى النِّيَّةِ فَالْكِنَايَةُ مُغْتَفَرَةٌ فِي ذَلِكَ ( وَ ) لَا بِ ( كِتَابَةٍ ) وَفِي نُسْخَةٍ وَبِكِتَابَةٍ فِي غَيْبَةٍ أَوْ حُضُورٍ ؛ لِأَنَّهَا كِنَايَةٌ وَقَدْ عَرَفْت أَنَّهُ لَا يَنْعَقِدُ بِهَا بَلْ لَوْ قَالَ لِغَائِبٍ : زَوَّجْتُك ابْنَتِي أَوْ قَالَ زَوَّجْتهَا مِنْ فُلَانٍ ثُمَّ كَتَبَ فَبَلَغَهُ الْكِتَابُ أَوْ الْخَبَرُ فَقَالَ قَبِلْت لَمْ يَصِحَّ كَمَا صَحَّحَهُ فِي أَصْلِ الرَّوْضَةِ فِي الْأُولَى وَسَكَتَ عَنْ الثَّانِيَةِ ؛ لِأَنَّهَا سَقَطَتْ مِنْ كَلَامِهِ .وَعَلَّلَ الرَّافِعِيُّ نَقْلًا عَنْ الْبَغَوِيّ عَدَمَ الصِّحَّةِ بِتَرَاخِي الْقَبُولِ عَنْ الْإِيجَابِ وَهُوَ مَوْجُودٌ فِي نَظِيرِهِ مِنْ الْبَيْعِ مَعَ أَنَّ كَلَامَ الْأَصْلِ فِيهِ يَقْتَضِي الصِّحَّةَ حَيْثُ نَقَلَهَا عَنْ بَعْضِ الْأَصْحَابِ تَفْرِيعًا عَلَى صِحَّةِ الْبَيْعِ بِالْكِنَايَةِ وَأَقَرَّهُ ، وَبِهِ جَزَمَ الْمُصَنِّفُ وَغَيْرُهُ ، ثَمَّ وَعَلَيْهِ فَالْفَرْقُ بَيْنَ الْبَابَيْنِ أَنَّ بَابَ الْبَيْعِ أَوْسَعُ بِدَلِيلِ انْعِقَادِهِ بِالْكِنَايَاتِ وَثُبُوتِ الْخِيَارِ فِيهِ ، وَجَعَلَ الْإِسْنَوِيُّ الرَّاجِحَ فِيهِمَا عَدَمَ الصِّحَّةِ جَاعِلًا مَا صَحَّحَهُ النَّوَوِيُّ هُنَا مِنْ عَدَمِ الصِّحَّةِ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ مَا نَقَلَهُ كَالرَّافِعِيِّ ثُمَّ عَنْ بَعْضِ الْأَصَحِّ لِلْأَبِ ضَعِيفٌ ، وَفِي الْأَصْلِ لَوْ اسْتَخْلَفَ الْقَاضِي فَقِيهًا فِي تَزْوِيجِ امْرَأَةٍ لَمْ يَكْفِ الْكِتَابُ بَلْ يُشْتَرَطُ اللَّفْظُ وَلَيْسَ لِلْمَكْتُوبِ إلَيْهِ الِاعْتِمَادُ عَلَى الْخَطِّ عَلَى الصَّحِيحِ وَحَذَفَهُ الْمُصَنِّفُ لِلِاسْتِغْنَاءِ عَنْهُ لِمَا يَأْتِي فِي كِتَابِ الْقَضَاءِ لَا لِقَوْلِ الْبُلْقِينِيِّ : أَنَّهُ لَيْسَ بِالْمُعْتَمَدِ ؛ لِأَنَّهُ فَرْعٌ مِنْ فُرُوعِ الْقَاضِي وَالْقَاضِي يَجُوزُ أَنْ يُوَلِّيَ نَائِبَهُ الْقَضَاءَ بِالْمُشَافَهَةِ وَالْمُرَاسِلَةِ وَالْمُكَاتَبَةِ عِنْدَ الْغَيْبَةِ ؛ لِأَنَّهُمْ صَرَّحُوا ثَمَّ بِأَنَّ الْكِتَابَةَ وَحْدَهَا لَا تُفِيدُ بَلْ لَا بُدَّ مِنْ إشْهَادِ شَاهِدَيْنِ عَلَى التَّوْلِيَةِ .

شرح البهجة الوردية – (ج 14 / ص 267)


( قَوْلُهُ : وَإِذْنُ الْخَرْسَاءِ إلَخْ ) وَيَصِحُّ الْعَقْدُ بِالْإِشَارَةِ مِنْ الْأَخْرَسِ إنْ فَهِمَهَا كُلَّ أَحَدٍ فَإِنْ اخْتَصَّ بِفَهْمِهَا الْفَطِنُ فَلَا بَلْ يُوَكِّلُ بِهَا ؛ لِأَنَّهَا حِينَئِذٍ كِنَايَةٌ وَلَا يَصِحُّ بِهَا النِّكَاحُ وَإِنْ صَحَّ بِهَا التَّوْكِيلُ فِيهِ .ا هـ .ق ل عَنْ الْمَجْمُوعِ .وَلَا يَصِحُّ بِالْكِتَابَةِ أَيْضًا عَلَى الْمُعْتَمَدِ ؛ لِأَنَّهُ مَعَ النِّيَّةِ كِنَايَةٌ وَلَا يَصِحُّ الْعَقْدُ فِي النِّكَاحِ بِالْكِنَايَاتِ


[6 [ حواشي الشرواني – (ج 7 / ص 221)


قوله: (وتعذر توكيله) مفهومه أنه لو أمكنه التوكيل بالكتابة أو الاشارة التي يختص بفهمها الفطن تعين لصحة نكاحه توكيله وهو قريب لان ذلك وإن كان كناية أيضا لكنه في التوكيل وهو ينعقد بالكناية بخلاف النكاح اه.

إعانة الطالبين – (ج 3 / ص 103)


ولا تصح الوكالة إلا (بإيجاب) وهو ما يشعر برضا الموكل الذي يصح مباشرته الموكل فيه في التصرف (قوله: وهو ما يشعر الخ) أي الايجاب لفظ يشعر الخ. ومثل اللفظ: كتابة، أو إشارة أخرس مفهمة

تحفة المحتاج في شرح المنهاج  – (ج 22 / ص 26)


( وَيُشْتَرَطُ مِنْ الْمُوَكِّلِ ) أَوْ نَائِبِهِ ( لَفْظٌ ) صَرِيحٌ أَوْ كِنَايَةٌ وَمِثْلُهُ كِتَابَةٌ أَوْ إشَارَةُ أَخْرَسَ مُفْهِمَةٌ ( يَقْتَضِي رِضَاهُ كَوَكَّلْتُك فِي كَذَا أَوْ فَوَّضْت إلَيْك ) أَوْ أَنَبْتُك أَوْ أَقَمْتُك مَقَامِي فِيهِ ( أَوْ أَنْتَ وَكِيلِي فِيهِ ) كَسَائِرِ الْعُقُودِ


Sumber: forsansalaf.com

Senin, 13 Februari 2017

Hukum Makan di Warung Orang Kafir


Pertanyaan:
Bagaimana hukum makan di warung milik orang kafir?
Jawaban:
Makan makanan orang non muslim itu boleh saja asalkan halal seperti buah-buahan, cuka atau lainnya. Yang perlu diperhatikan adalah jika yang dibeli adalah daging sembelihan, sebab daging sembelihan yang halal adalah jika yang menyembelih adalah orang Islam atau orang Yahudi dan Nasrani asli (yang leluhurnya masuk agama Yahudi atau Nasrani sebelum ada perubahan dan distorsi dalam agama mereka). Adapun daging sembelihan kaum Yahudi dan Nasrani baru (yang baru masuk agama tersebut atau leluhurnya masuk agama Yahudi dan Nasrani setelah ada perubahan dalam agama mereka), orang-orang majusi atau Hindu, Budha dan agama lainnya maka tidak halal dimakan oleh umat Islam.
Perlu juga diperhatikan bahwa memakai alat makan kaum non muslim dan pakaian mereka hukumnya makruh jika mereka tidak menjaga diri dari najis.
Referensi:
النجم الوهاج في شرح المنهاج (1/ 418)
ولا بأس أن يشترى من أهل الذمة خل لم يتعمدوا إفساده؛ لقوله تعالى: {وطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ}.
التهذيب في فقه الإمام الشافعي (8/ 3)
كتاب الصيد والذبائح
قال الله تعالى: {وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا} [المائدة: 2].
تحل ذبيحة المسلم العاقل، رجلاً كان أو امرأة، حراً أو عبداً، وكذلك: ما اصطاده بجارحته المعلمة، فقتله، وتحل ذبيحة اليهودي والنصراني؛ لقوله تعالى: {وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ} [المائدة: 5].
ولا تحل ذبيحة المجوسي والوثني والمرتد، ولا ذبيحة من دخل في دين اليهود والنصارى بعد النسخ والتبديل، أو شككنا أنه دخل فيه بعد النسخ والتبديل أو قبله؛ مثل نصارى بني تغلب.
حواشي الشرواني (1/ 127)
تتمة: يكره استعمال أواني الكفار وملبوسهم وما يلي أسافلهم أي مما يلي الجلد أشد وأواني مائهم أخف وكذلك المسلم الذي ظهر منه عدم تصوبه عن النجاسات ويسن إذا جن الليل تغطية الاناء ولو بعرض عود وألحق به ابن العماد البئر وإغلاق الابواب وإيكاء السقاء مسميا لله تعالى في الثلاثة وكف الصبيان والماشية أول ساعة من الليل وإطفاء المصباح للنوم ويسن ذكر اسم الله على كل أمر ذي بال كردي ومغني وقوله: (أواني الكفار) أي وإن كانوا يتدينون باستعمال النجاسة كطائفة من المجوس يغتسلون ببول البقر تقربا إلى الله تعالى قوله: (وكذلك المسلم الذي الخ) أي كمدمني الخمر والقصابين الذين لا يحترزون عن النجاسة مغني وشيخنا.

Sumber: forsansalaf.com

Minggu, 12 Februari 2017

Sekilas Tentang Imam Mahdi


Pertanyaan
Siapakah Imam Mahdi sebenarnya, dan benarkah ia adalah salah satu keturunan Nabi SAW?
Jawab:
Menurut Imam Suyuthi, Imam Mahdi  adalah Pemimpin kaum muslim di akhir zaman. Beliau merupakan keturunan Rasulullah saw melalui jalur sayidatuna Fatimah. Beliau akan keluar dari Timur dan dibaiat di Mekah kemudian tinggal di Baitul Maqdis selama 7 tahun. Dalam masa kepemerintahan beliau tersebar keamanan dan keadilan setelah sebelumnya bumi dikuasai oleh kedzoliman.
Di masa Imam Mahdi Dajjal muncul dan diperangi. Nabi Isa pun muncul dari menara putih di Damaskus. Nabi Isa AS membantu Imam Mahdi untuk mengalahkan Dajal. Nabi Isa lah yang membunuh dajjal. Setelah itu Nabi Isa menikah, dan mempunyai anak, naik haji dan meninggal serta dimakamkan di dekat makam Nabi SAW.
Wallahu a`lam
Referensi:
الحاوي للفتاوي ـ للسيوطى (1/  365)
والذي ترجح عندي من أكثر الأحاديث أنه غيره . وأنه خليفة يقوم في آخر الزمان . وأنه من ولد فاطمة وقد ثبت في أحاديث أنه يخرج من قبل المشرق . وأنه يبايع له بمكة بين الركن والمقام . وأنه يدخل بيت المقدس . وأنه يمكث سبع سنين . وأن يملأ الأرض عدلاً ، وفي بعض الروايات بسند ضعيف أن الناس يقتتلون على الملك فينادي مناد من السماء أميركم فلان فيبايعون له ، ولم يقع شيء من ذلك إلى الآن فبطل قول من قال : إنه موجود الآن بالمغرب ، وفي الأحاديث أن عيسى عليه السلام ينزل في حياته فيسلم المهدي الأمر له . ونزول عيسى عليه السلام مؤقت بوقت وهو خروج الدجال فإنه ينزل في أيامه ويقتله ، وورد في الحديث أنه يمكث سبع سنين وفي رواية أربعين سنة وأنه يتزوج ويولد له ويحج له ويدفن عند النبي صلى الله عليه وسلّم ، ولم ترد تسمية ولده ، وفي الحديث أيضاً أنه ينزل عند المنارة البيضاء شرقي دمشق . وأما شد البغلة كل جمعة فلا أصل له ، ونزوله قبل يأجوج ومأجوج فإنهم يخرجون في أواخر أيامه . وأما طول يأجوج ومأجوج ففي أثر أخرجه ابن المنذر عن ابن
عمدة القاري (8/  173)
وقد ثبت في أحاديث الدجال أنه يخرج بعد خروج المهدي وأن عيسى يقتله إلى غير ذلك فما وجه إنذار الأنبياء أمتهم عنه وأجيب بأن المراد به تحقيق خروجه يعني لا يشكون في خروجه فإنه يخرج لا محالة ونبهوا على فتنته فإن فتنته عظيمة جدا تدهش العقول وتحير الألباب مع سرعة مروره في الأرض وقلة مكثه
عون المعبود شرح سنن أبي داود) (9/  1321)
وَاعْلَمْ أَنَّ الْمَشْهُور بَيْن الْكَافَّة مِنْ أَهْل الْإِسْلَام عَلَى مَمَرّ الْأَعْصَار أَنَّهُ لَا بُدّ فِي آخِر الزَّمَان مِنْ ظُهُور رَجُل مِنْ أَهْل الْبَيْت يُؤَيِّد الدِّين وَيُظْهِر الْعَدْل وَيَتَّبِعهُ الْمُسْلِمُونَ وَيَسْتَوْلِي عَلَى الْمَمَالِك الْإِسْلَامِيَّة وَيُسَمَّى بِالْمَهْدِيِّ ، وَيَكُون خُرُوج الدَّجَّال وَمَا بَعْده مِنْ أَشْرَاط السَّاعَة الثَّابِتَة فِي الصَّحِيح عَلَى أَثَره ، وَأَنَّ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَام يَنْزِل مِنْ بَعْده فَيَقْتُل الدَّجَّال ، أَوْ يَنْزِل مَعَهُ فَيُسَاعِدهُ عَلَى قَتْله ، وَيَأْتَمّ بِالْمَهْدِيِّ فِي صَلَاته .
المسالك في شرح موطأ مالك (7/  315،)
 ثم يجئ عليه عيسى بن مريم من قبل المغرب مصدقا لمحمد صلى الله عليه وسلم وعلى ملته فيقتل الدجال ثم انما هو قيام الساعه وقيل انه ينزل عند المناره البيضاء بدمشق وفى العتبيه عن مالك قال بينما الناس بلد اذا يسمعون الاقامه يريد الصلاه فتغشاهم غمامه فاذا عيسى بن مريم قد نزل نكته قال الامام واجمعت العلماء ان خروج المهدى حق لاشك فيه ولا ريب وان خروجه يكون قبل خروج الدجال وقبل نزول عيسى بن مريم فيفتش المهدى فلا يوجد فينزل عيسى بن مريم وقد خرج ابو داود عن النبى عليه السلام قال لو لم يبق من الدنيا الا يوم قال زائده لطول الله ذلك اليوم حتى يبعث الله فيه رجلا منى او من اهل بيتى يواطئ اسمه اسمى واسم ابيه اسلم ابى يملا الارض قسطا وعدلا كما ملئت جورا وظلما وفى حديث سفيان لا تذهب او لا تنقضى الدنيا حتى يملك العرب رجل من اهل بيتى يواطئ اسمه اسمى ومن الحديث الثابت الصحيح عن سعيد بن المسبب عن ام سلمه قالت
 sumber: forsansalaf.com

Sabtu, 11 Februari 2017

Ziarah ke Makam Nabi


Sejak masa sahabat sampai saat ini. Umat muslim dari segala penjuru tidak ada henti-hentinya datang ke Madinah untuk menziarahi makam Rasulullah SAW terutama setelah menunaikan ibadah haji. Tidak ada satu pun ulama yang mengingkari hal ini. Semua ulama ahlu sunnah yang terpercaya menyepakati bahwa bepergian untuk berziarah ke makam Nabi SAW adalah satu di antara ibadah yang paling utama. Satu dari bentuk pengagungan dan rasa syukur atas jasa besar Rasulullah SAW yang tidak mungkin bisa dibalas.
Adanya sempalan umat Islam yang mengaku mencintai mencintai Nabi SAW namun menyatakan bahwa perjalanan untuk menziarahi makam Nabi SAW adalah perbuatan maksiat sungguh sangat mengherankan. Bukankah aneh, mereka memperbolehkan segala jenis perjalanan baik untuk perdagangan, mengunjungi kerabat dan lainnya namun ketika yang dikunjungi itu adalah tempat jasad mulia Nabi Muhammad SAW, Sang kekasih Allah, mereka justru mengharamkannya dengan sangat keras. Terlebih dalil yang mereka gunakan sangat dangkal dan bertentangan dengan banyak dalil shahih.
Yang benar bahwa melakukan perjalanan ke makam Rasulullah SAW adalah perbuatan yang sangat dianjurkan berdasarkan al Quran, sunnah, qiyas dan Ijma. Kami akan merinci satu per satu dalil-dalil ini.
Ziarah dalam al Quran
Di dalam al Quran Allah SWT berfirman :
وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا [النساء: 64[
Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS an Nisa 64)
Ayat di atas berisi anjuran untuk mendatangi Rasulullah SAW untuk mendapatkan pengampunan dan kasih sayang Allah SWT. Para ulama, di antaranya adalah Ibnu Hajar dan as Subki menyatakan bahwa ayat ini berlaku baik di masa hidup Nabi SAW mau pun setelah beliau wafat. Siapa yang berpendapat bahwa ayat ini berlaku khusus di masa hidup Nabi SAW saja telah keliru. Selain karena tidak ada dalil yang mengkhususkan, juga karena dalam ayat ini terdapat perbuatan yang digantungkan dengan suatu syarat yakni pengampunan yang digantungkan dengan syarat mendatangi Rasulullah SAW. Dalam kaidah ilmu Ushul dikatakan apabila perbuatan digantungkan dengan satu syarat maka ini menunjukkan makna umum, berarti ayat ini bermakna umum.
Para ulama tafsir sekelas al Qurtubi dan Ibnu Katsir pun memahami keumuman ayat ini. Buktinya setelah membawakan tafsir ayat ini, mereka mendatangkan kisah Utbi mengenai kedatangan seorang Arab ke makam Rasulullah SAW untuk memohon ampun dengan membacakan ayat ini di hadapan makam Rasulullah SAW.  Ini artinya ayat ini masih berlaku setelah wafatnya Rasulullah SAW. Para ulama pun menganjurkan bagi peziarah untuk membacakan ayat ini ketika menziarahi makam Beliau SAW.
Qiyas
Dalil lain anjuran menziarahi Nabi SAW adalah keumuman hadits :
فَزُوْرُوْا الْقُبُوْرَ لِأَنَّهَا تُذَّكِرَ الْمَوْتَ
Berziarah kuburlah sebab itu dapat mengingatkan kematian. (HR Muslim)
Jika menziarahi kubur manusia biasa dianjurkan maka secara qiyas bisa dikatakan bahwa menziarahi Nabi Muhammad SAW adalah lebih dianjurkan lagi. Karena bagaimana bisa menziarahi manusia biasa dianjurkan namun menziarahi manusia terbaik, makhluk Allah yang paling mulia, Nabi Muhammad SAW terlarang ?
Hadits
Para pengingkar ziarah ke makam Rasulullah SAW menebar isu bahwa semua hadits yang menganjurkan ziarah kubur adalah dhaif (lemah) bahkan maudhu (palsu) sehingga tidak bisa dijadikan dalil. Ucapan ini jelas keliru. Yang mengatakannya pasti tidak memiliki pemahaman tentang ilmu hadits dan kaidah jarh wat ta`dil (cacat dan keadilan perawi). Dan yang paling penting isu ini bertentangan dengan fakta yang ada.
Dalam satu hal isu ini benar bahwa hampir semua hadits ini lemah (bukan maudhu), namun perlu diketahui bahwa hadits-hadits lemah apabila memiliki banyak jalur periwayatan dan sebab lemahnya bukan karena perawinya dicurigai berbohong maka derajatnya bisa meningkat menjadi hasan (baik) sehingga bisa menjadi dalil syariat. Imam Adz Dzahabi sebagaimana dikutip dalam al Maghosid al Hasanah ketika menjelaskan masalah hadits ziarah kubur mengatakan, “Jalur-jalur periwayatan hadits ini semuanya lemah namun saling menguatkan satu sama lain karena tidak ada perawi yang dicurigai sebagai pembohong.”
Sebagian hadits-hadits tentang ziarah bahkan dishahihkan oleh beberapa Ahli Hadits terkemuka seperti as Subki, Ibnu Sakan, al Iraqi, Qodhi Iyadh, Mala Ali Qori, Asy Syuyuthi, al Khafaji dan lainnya. Mereka semua adalah para panutan dan imam yang dijadikan sandaran. Para Imam yang empat semuanya menyatakan bahwa ziarah ke makam Nabi SAW adalah dianjurkan. Jika demikian maka ini cukup menjadi dasar atas shahih dan diterimanya hadits-hadits ziarah. Sebab dalam kaidah ilmu Ushul dan Hadits dikatakan, suatu hadits dhaif (lemah) bisa menjadi kuat bila diamalkan dan difatwakan secara umum.
Di antara hadits-hadits ziarah adalah hadits riwayat sahabat Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ زَارَ قَبْرِيْ وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِيْ
Siapa yang menziarahi kuburku maka wajib atasnya syafaatku.
Hadits ini diriwayatkan oleh ad Daruqutni dalam Sunannya, Qodhi Iyadh dalam as Syifa, Hakim Turmudzi dalam Nawadir, ad Daulabi dalam al Kuna. Derajat hadits ini paling sedikit adalah hasan (baik). Al Hafidz Suyuthi dalam al Manahil mengatakan, “Hadits ini memiliki jalur-jalur dan penguat-penguat yang menyebabkan Adz Dzahabi menghasankannya.” Al Munawi dan Mala Ali Qori menyatakan hal yang sama. As Subki dalam Syifa As Siqom setelah menyebutkan jalur-jalur periwayatannya mengatakan, “Menjadi jelas bahwa derajat hadits ini paling sedikit adalah hasan dan sebagian ulama bahkan mengklaim hadits ini shahih.” Pendapat mengenai hasannya hadits ini juga dipastikan oleh Syaikh Mahmud Said Mamduh.
Dalam riwayat lain dari Sahabat Ibnu Umar ra dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :
مَنْ جَاءَنِيْ زَائِرًا لَا يُهِمَّهَ إِلَّا زِيَارِتِيْ كَانَ حَقًّا عَلَيّ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ شَفِيْعاً
Siapa yang datang kepadaku untuk berziarah. Ia tidak memiliki tujuan lain selain berziarah kepadaku maka wajib bagiku untuk menjadi pemberi syafaat baginya di hari kiamat.
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikhnya, Athabrani dalam al Kabir, dan Ad Daruqutni dalam Sunannya.
Al Haitsami dalam Majma Zawaid mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat perawi bernama Muslim bin Salim dan dia dhoif (lemah).” Namun sebenarnya paling sedikit derajat hadits ini adalah hasan melihat banyak jalur yang saling menguatkan. Sebagian ulama seperti al Hafidz Bushiri dan Ibnu Sakan menganggap hadits tersebut shahih.
Dalam riwayat lain Sahabat Ibnu Umar ra meriwayatkan sabda Nabi SAW:
مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِيْ فِيْ مَمَاتِيْ كَانَ كَمَنْ زَارَنِيْ فِي حَيَاتِيْ
Siapa yang berhaji kemudian menziarahi kuburku setelah aku mati maka seakan ia menziarahiku ketika aku masih hidup.
Hadits ini diriwayatkan ath Thabrani dalam al Kabir dan al Aushat. Salah satu perawinya bernama Hafsh bin Abi Dawud. Imam Ahmad menganggapnya terpercaya namun Sebagian ulama menganggapnya lemah.
Ada pula hadits :
مَنْ حَجَّ وَلَمْ يَزُرْنِيْ فَقَدْ جَفَانِيْ
Siapa yang berhaji namun tidak menziarahiku maka ia telah menjauhiku.
Hadits ini diriwayatkan ad Daruqutni dan Ibnu Hibban. Di dalamnya ada perawi bernama Nu`man bin Syabl yang sangat lemah, namum Imran bin Musa menganggapnya terpercaya. Al Bazar meriwayatkan pula hadits ini melalui jalur Ibrahim al Ghifari dan ia adalah perawi dhaif. Al Baihaqi meriwayatkan hadits ini dari Sayidina Umar namun ia berkata dalam sanadnya terdapat orang yang tidak dikenal.
Dan masih banyak hadits lainnya. Kesimpulannya bahwa hadits-hadits yang menunjukkan kesunahan ziarah ke kubur Nabi SAW secara khsusus  ada yang  sampai derajat hasan bahkan ada yang yang dishahihkan sebagian imam ahli hadits. Jadi hadits-hadits tersebut layak untuk dijadikan dalil. Sungguh tidak tahu malu orang yang menghukumi semua hadits-hadits itu dengan maudhu (palsu) sebagaimana dikatakan sebagian orang yang tidak mengerti.
Ijma
Kesunnahan ziarah ke makam Rasulullah SAW juga didukung dengan Ijma (kesepakatan) para ulama salaf yang diakui. Ijma ini dikutip oleh ulama-ulama yang terpercaya.
Qodhi Iyadh al Maliki dalam kitabnya Asyifa mengatakan, “Ziarah ke kubur Nabi SAW adalah satu sunah daripada sunah-sunah kaum muslimin yang disepakati dan satu keutamaan yang dianjurkan.”
Dalam kitab al Madkhal, Imam Ibnul Haj al Hanbali mengatakan, “Ibnu Hubairah menukilkan dalam kitabnya Ittifaq `aimmah (kesepakatan para imam): Bersepakat Imam Malik, Syafii, Abu Hanifah, dan Ahmad ra bahwa menziarahi makam Nabi SAW adalah sunnah. Abdul Haq dalam Tadzhib at Thalib mengutip dari Abi Imran al Fasi bahwa menziarahi makam Nabi SAW adalah wajib. Abdul Haq mengatakan bahwa yang dimaksud dengan wajib adalah sunnah yang sangat ditekankan.”
Syaikh Ibnu Abidin al Hanafi dalam Radul Mukhtar mengatakan “Perkataan bahwa ziarah ke makam Nabi SAW dihukumi sunah adalah berdasarkan kesepakatan umat muslim sebagaimana yang disebutkan dalam al Lubab.”
Imam Ibnu Hajar al Haitami asy Syafii dalam al Jauhar al Munadzom mengatakan, “ Mengenai kesepakatan tentang disyariatkannya ziarah ke makam Rasulullah SAW itu telah dinukilkan oleh beberapa Imam penjaga syariat yang mulia yang menjadi panutan dalam penyebutan khilaf. Yang diperselisihkan di antara mereka hanya mengenai hukumnya apakah wajib atau sunnah. Mayoritas salaf dan khalaf menyatakan sunah bukan wajib. Berdasarkan yang mana saja dari dua pendapat ini maka berziarah dengan segala hal yang menunjang untuk melakukannya seperti melakukan perjalanan jauh walaupun dengan mengkhususkan niat untuk berziarah saja tanpa ada niat beritikaf atau shalat di masjidnya SAW termasuk ibadah yang paling utama dan usaha yang paling mendatangkan hasil.”
Selain mereka masih banyak ulama yang mengutip kesepakatan mengenai anjuran berziarah ke makam Rasulullah SAW baik bagi yang dekat mau pun yang jauh. Di antaranya adalah Taqiyudin al Hishni dalam Daf`u Syubahi man Syabbaha wa Tamarrad, As Subki dalam Syifau Siqom, Nuruddin as Samhudi dalam Wafaul Wafa dan ulama lainnya.
Bepergian untuk berziarah
Dalil-dalil yang telah disebutkan menunjukkan bahwa semua ulama ahlus sunnah wal jamaah tidak mengingkari anjuran menziarahi makam Nabi SAW. Kemudian ada satu masalah yang diperselisihkan para pengingkar ziarah Nabi SAW yaitu masalah perjalanan untuk berziarah. Semestinya hal ini tidak perlu dipermasalahkan. Sebab ziarah itu menuntut untuk melakukan perjalanan. Tidak mungkin ada ziarah tanpa ada perjalanan menuju tempat yang diziarahi. Jika ziarah ke makam Nabi adalah sunah sudah tentu melakukan perjalanan menujunya adalah sunah pula sesuai dengan kaidah “perantara untuk yang sunah adalah sunah”. Oleh karena itu para sahabat dan ulama sejak dahulu sampai kini senantiasa melakukan dan menganjurkan untuk melakukannya. Di antara kisah shahih dan terkenal mengenai perjalanan dengan tujuan ziarah Nabi SAW adalah perjalanan ziarah sahabat Bilal ra.
Perjalanan ziarah Sahabat bilal RA
Ibnu Asakir meriwayatkan dengan sanad yang jayid (baik) dari Sahabat Abu Darda ra kisah menetapnya Bilal bin Rabbah di daerah bernama Dariya setelah Sahabat Umar bin Khathab ra membebaskan Baitul Maqdis. Ia berkata, “Kemudian Bilal melihat Nabi SAW dalam mimpinya. Rasulullah SAW bertanya, “ Apa arti jauhnya dirimu ini wahai Bilal? Tidakkah sudah tiba waktu bagimu untuk menziarahiku?” Bilal terbangun dalam keadaan sedih dan takut. Ia segera melakukan perjalanan menuju Madinah dan mendatangi kubur Nabi SAW. Ia menangis di sana dan mengusapkan wajah di atas kubur beliau SAW…”
Kisah ini diriwayatkan pula oleh as Samhudi dalam Wafaul Wafa. Al Mizi dalam Tahdzib menukil perkataan As Subki bahwa sanad riwayat kisah ini adalah baik. Begitupula Asyaukhani mengatakan dalam Nailul Author bahwa sanad riwayat Ibnu Asakir adalah baik.
Kesimpulan kisah ini bukan tentang mimpi sahabat Bilal saja, namun adalah perjalanan beliau ra dari Dariya menuju Madinah hanya untuk menziarahi makam Rasulullah SAW. Seandainya perjalanan untuk berziarah adalah haram, tidaklah mungkin beliau yang merupakan seorang sahabat besar melakukannya tanpa diinkari seorang pun dari sahabat termasuk Sayidina Umar ra yang terkenal keras.

sumber: forsansalaf.com