Mayoritas ulama Ahlu Sunah membagi dosa menjadi dua; dosa kecil dan dosa besar. Berbeda dengan aliran sesat Murjiah yang berpendapat semua dosa adalah kecil selama ia beragama Islam. Berbeda pula dengan aliran Khawarij yang menganggap semua dosa adalah besar dan mengkafirkan pelaku dosa-dosa besar seperti pembunuh dan pezina.
Tampilkan postingan dengan label kalam salaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kalam salaf. Tampilkan semua postingan
Selasa, 28 Februari 2017
Senin, 27 Februari 2017
Jangan Ragu Mengangkat Suara Bila Berdoa
Allah SWT Maha Mendengar, tapi mengapa kita perlu mengangkat suara kala berdoa dan berzikir?
Allah SWT Maha Mengetahui, tapi mengapa kita dianjurkan berdoa ketika kita mempunyai hajat?
Minggu, 26 Februari 2017
Pengaruh Dahsyat Pergaulan
Kalam Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi
Akhir-akhir ini pergaulan yang salah disinyalir sebagai faktor utama penyebab meningkatnya tindak kriminalitas dan kerusakan moral di tengah-tengah masyarakat. Maka tidak ada salahnya apabila kita menyimak analisa Habib Idrus bin Umar Alhabsyi mengenai pengaruh pergaulan terhadap baik buruknya kepribadian seseorang berikut;
Sabtu, 25 Februari 2017
Salaf Sebagai Cermin Kehidupan
Tidak dapat dipungkiri lagi, kita saat ini berada di zaman yang mana nilai-nilai moral dan agama sudah terkikis, di zaman yang perbuatan dosa sudah menjandi konsumsi sehari-hari, di zaman yang orang sudah semakin malu untuk menuntut ilmu agama dan enggan untuk melakukan kebaikan dan ketaatan.
Jumat, 24 Februari 2017
Kamis, 23 Februari 2017
Menjaga Lisan Itu Penting
Akhir-akhir ini terjadi kegaduhan di negara kita hanya karena hal yang dianggap sepele yaitu kesalahan ucap dan omongan tidak pantas yang dikatakan oleh berbagai macam kalangan.
Rabu, 22 Februari 2017
Cahaya Ilahi di Bulan Ramadan
Rasanya tak berlebihan bila kita sebut bulan Ramadan ini sebagai bulan penuh cahaya. Coba kita simak firman Allah di Surat An-Nur: 35,
Senin, 20 Februari 2017
Sabtu, 18 Februari 2017
Hisab Merupakan Bagian Dari Adzab
Tatkala hari kiamat tiba, seluruh manusia dibangkitkan dan dikumpulkan di satu tempat. Di situ mereka dimintai pertanggung-jawaban atas semua amal yang telah mereka perbuat selama hidup di dunia.
Tinggal Di Rumah Adalah Fitrah Seorang Muslimah
Di antara perintah Allah kepada wanita muslimah adalah perintah untuk tinggal dan menetap di rumah-rumah mereka. Sebuah perintah yang banyak mengandung hikmah dan maslahat. Tidak hanya bagi wanita itu sendiri, namun juga mengandung kemaslahatan bagi keluarganya.
Wahai saudariku muslimah, para istri ataupun gadis remaja..
Mari kita sama-sama merenungkan firman Allah SWT berikut ini :
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً
“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33).
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna ayat di atas artinya tetaplah di rumah-rumah kalian dan janganlah keluar tanpa ada kebutuhan.
Yang perlu dipahami bahwa perintah dalam ayat di atas tidak hanya terbatas pada istri-istri nabi saja, tetapi juga berlaku untuk seluruh kaum wanita muslimah. Imam Ibnu Katsir mengatakan :
“Semua ini merupakan adab dan tata krama yang Allah Ta’ala perintahkan kepada para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun kaum wanita umat ini seluruhnya sama juga dengan mereka dalam hukum masalah ini.”
Bahkan dalam hal ibadahpun seorang wanita dianjurkan untuk melaksanakannya di rumah mereka masing-masing.
Dari Ummu Salamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ
“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah diam di rumah-rumah mereka.” (HR. Ahmad 6/297)
Masjid merupakan tempat ibadah akan tetapi ibadahnya seorang wanita di rumahnya adalah pengamalan dari perintah Allah SWT agar wanita diam di rumah.
Saudariku muslimah, perhatikanlah..
Perintah untuk tinggal di dalam rumah ini datang dari Dzat Yang Maha Memiliki Hikmah, Dzat yang lebih tahu tentang perkara yang memberikan maslahat bagi hamba-hamba-Nya. Ketika Dia menetapkan wanita harus berdiam dan tinggal di rumahnya, Dia sama sekali tidak berbuat zalim kepada wanita, bahkan ketetapan-Nya itu sebagai tanda akan kasih sayang-Nya kepada para hamba-Nya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
والمرأة راعية على بيت بعلها وولده وهي مسئولة عنهم،
“….Adapun seorang wanita adalah pemimpin bagi anggota keluarga suaminya serta anak-anaknya dan ia akan ditanya tentang mereka.”
(HR. Bukhari 893 dan Muslim 1829).
Seorang istri merupakan pemimpin yang menjaga di rumah suaminya dan akan ditanya tentang penjagaanya. Maka wajib baginya untuk mengurusi rumah dengan baik, seperti dalam memasak, menyiapkan minum seperti kopi dan teh, serta mengatur tempat tidur.
Seorang Istri juga memiliki tanggung jawab terhadap anak-anaknya dalam mengurus dan memperbaiki urusan mereka, seperti dalam hal memakaikan pakaian, melepaskan pakaian yang kotor, merapikan tempat tidur, dan lain-lain. Setiap wanita akan ditanya tentang semua itu. Dia akan ditanya tentang urusan memasak, dan ia akan ditanya tentang seluruh apa yang ada di dalam rumahnya.
Dengan demikian, tugas seorang istri selaku pendamping suami dan ibu bagi anak-anaknya adalah memegang amanah sebagai pengatur urusan dalam rumah suaminya serta anak-anaknya.
Wahai saudariku wanita muslimah..
Janganlah kalian tertipu dengan teriakan orang-orang yang menggembar-gemborkan isu kesetaraan gender sehingga timbul rasa minder terhadap wanita-wanita karir dan merasa rendah diri dengan menganggur di rumah. Padahal banyak pekerjaan mulia yang bisa dilakukan di rumah.
Di rumah ada suami yang harus dilayani dan ditaati. Ada juga anak-anak yang harus ditarbiyah dengan baik. Ada harta suami yang harus diatur dan dijaga sebaik-baiknya.
Ada pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang butuh penanganan dan pengaturan. Semua ini pekerjaan yang mulia dan berpahala di sisi Allah Ta’ala. Para wanita muslimah harus ingat bahwa kelak pada hari kiamat mereka akan ditanya tentang amanah tersebut yang dibebankan kepadanya.
Diantara semua pekerjaan dan tugas seorang wanita, tugas yang paling penting adalah mendidik anak-anaknya. Minimnya perhatian dan kelembutan seorang ibu yang tersita waktunya untuk aktifitas di luar rumah, sangat berpengaruh besar pada perkembangan jiwa dan pendidkan mereka. Terlebih jika keperluan anak dan suaminya justru diserahkan kepada *pembantu*. Jika demikian, lalu bagaimanakah tanggung jawab wanita untuk menjadikan rumah sebagai madrasah bagi anak-anak mereka?
Ingat, Bagi seorang ibu, mendidik anak-anaknya bukanlah sebuah tanggung jawab yang ringan. Ibu harus bersusah payah mendidiknya supaya menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah.
Jika kita lihat saat ini betapa banyak generasi shalih dan shalihah muncul dari tarbiyah yang dilakukan oleh para wanita. Melalui tarbiyah yang baik mereka mencetak generasi umat Islam yang shalih dan shalilah. Hal itu bisa terwujud jika mereka langsung terjun untuk mendidik anak-anak mereka.
Namun kita saksikan pula, betapa banyak anak-anak yang berakhlak bejat yang tidak pernah mendapat pendidikan di rumahnya. Hal itu disebabkan orang tua tidak mendidik mereka secara langsung.
Peran orang-tua yang dominan dalam mendidik anak berada di pundak para wanita, karena laki laki mempunyai tugas lain yaitu untuk mencari nafkah. Dengan demikian, pendidikan di rumah merupakan salah satu tanggung jawab yang besar bagi seorang muslimah.
Dengan tetap tinggal di rumahnya, wanita juga bisa mendapatkan pahala yang banyak.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia mengatakan :
جئن النساء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلن: يا رسول الله، ذهب الرجال بالفضل والجهاد في سبيل الله تعالى، فما لنا عمل ندرك به عمل المجاهدين في سبيل الله؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من قعد -أو كلمة نحوها -منكن في بيتها فإنها تدرك عمل المجاهدين في سبيل الله”.
“Seorang wanita datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata : “Wahai Rasulullah, laki-laki memiliki keutamaan dan mereka juga berjihad di jalan Allah. Apakah bagi kami kaum wanita bisa mendapatkan amalan orang yang jihad di jalan Allah? Rasulullah bersabda : “ Brangsiapa di antara kalian yang tinggal di rumahnya maka dia mendapatkan pahala mujahid di jalan Allah.”
Wahai saudariku muslimah, renungkanlah!
Betapa banyak pahala yang melimpah meskipun kalian tetap tinggal di rumah. Betapa banyak pula tugas-tugas mulia yang bisa dilakukan di dalam rumah. Melaksanakan ibadah di rumah, mengurus rumah tangga, mendidik anak menjadi genarasi shalih-shalihah, dan kegiatan lain yang bernilai pahala. Tinggalkanlah kebiasaan keluar rumah untuk sesuatu yang tidak penting dan kurang bermanfaat.
Ketahuilah, Tidak ada profesi yang lebih mulia bagi wanita selain tinggal di rumahnya untuk menjadi ibu rumah tangga..
_Wallahua’lam_
Semoga bermanfaat..
sumber: forsansalaf.com
Kamis, 16 Februari 2017
Resep Hidup Penuh Bahagia
Kalam Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi
Qana’ah adalah suatu sikap merasa cukup dengan pembagian rizki yang diberikan Allah, dan menyandarkan kebutuhan hanya kepada Allah SWT. Seorang yang qana’ah akan memohon hanya kepada-Nya, tidak kepada yang lain. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad bersyair:
Andai dirimu ridha dengan bagian yang dijatahkan kepadamu, niscaya dirimu hidup penuh kenikmatan.
Namun bila dirimu tiada pernah ridha, maka dirimu senantiasa dalam kegundahan.
Qana’ah adalah awal dari sikap ridha. Setiap orang yang memiliki sikap qana’ah pasti mendapatkan bagian dari ridha. Sikap qana’ah akan tumbuh bila seseorang cermat dalam berinfak serta tidak berfoya-foya. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Orang yang cermat berbelanja akan dicukupkan kebutuhannya oleh Allah SWT, sedangkan orang yang mubazir akan difakirkan oleh Allah SWT.”
Seseorang akan memiliki sikap qana’ah bila ia benar-benar pasrah pada pembagian Allah SWT. Dalam Al-Qur’anul Karim, Allah SWT berfirman:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS;Hud ayat 6)
Sikap pasrah semacam ini adalah ilmu, cermat berinfak adalah amal. Sementara itu, pondasi qana’ah adalah kesabaran, pendek angan, memahami bahaya kekayaan dan keutamaan qana’ah. Dalam syair yang lain, Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad berpesan:
Sungguh, qana’ah adalah harta yang takkan pernah punah.
Terapkanlah saudaraku, moga engkau beroleh petunjuk. Hidup dengan qana’ah itu asyik.
Hiduplah dengan qana’ah tanpa rasa rakus dan tamak.
Engkau akan mulia, berwibawa dan bermartabat luhur.
Maka jelaslah bahwa qana’ah adalah perilaku menepis rasa rakus dan tamak pada dunia. Ada pun pendek amal adalah kesadaran hati akan begitu dekatnya mati dan segeranya masa peralihan dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad telah mengulas permasalahan ini dengan begitu panjang di dalam karyanya, An-Nashaihud Diniyah, begitu pula Imam Ghazali di dalam kitabnya, Minhajul Abidin.
Suatu kali Baginda Rasul SAW ditanya mengenai siapa manusia yang paling pandai dan paling mulia. Beliau menjawab, “Yang paling sering mengingat mati dan yang paling semangat mempersiapkan diri untuk mati. Merekalah manusia yang pandai. Mereka melenggang dengan kemuliaan dunia dan akhirat.” Seorang sufi bernama Rabi’ bin Khaitsam pernah berkata, “Andai ingat mati itu terpisah dari hatiku, niscaya hatiku bakal rusak.” Baginda Rasul SAW pernah bersabda, “Permulaan umat ini selamat berkat sikap yakin dan zuhud, sementara akhir umat ini hancur dikarenakan sikap bakhil dan panjang angan.” Beliau pernah berdoa, “Aku berlindung kepada-Mu dari angan-angan yang bisa menghalangi amal yang baik.”
Sesungguhnya angan-angan yang dicela itu adalah angan-angan yang bisa menghambat perbuatan baik. Tidak semua angan-angan tercela. Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad menerangkannya dengan detail dalam kitab Nashaihud Diniyah. Angan-angan yang tercela muncul karena kebodohan, cinta dunia dan terlena dengan syahwat-syahwatnya. Penawar kebodohan semisal itu adalah perenungan yang sungguh-sungguh akan arti kematian. Manusia memang harus pandai merenungi kematian. Baginda Nabi SAW bersabda, “Cintailah orang yang kamu cintai, tapi ingatlah bahwa kamu bakal berpisah dengannya!”
Baitul Makmur
Cinta dunia bisa diobati dengan pengukuhan iman kepada Allah SWT dan hari akhir, serta kesadaran bahwa dunia itu fana, hina dan penuh kebencian. Tanda orang yang memiliki pendek amal adalah semangatnya yang tinggi untuk beramal ibadah dan senantiasa siap menyongsong kematian. Resapilah satu sabda Nabi SAW berikut ini, “Manfaatkanlah lima keadaan sebelum datangnya lima keadaan yang lain: masa mudamu sebelum tuamu; sehatmu sebelum sakitmu; kecukupanmu sebelum fakirmu; waktu luangmu sebelum kesibukanmu; hidupmu sebelum matimu.”
Malik bin Dinar kerap berbisik kepada dirinya sendiri, “Bergegaslah, sebelum perkara itu (maut) tiba!” Ia mengulang perkataan itu enam puluh kali dalam sehari. Ketika memberikan nasehat, ia seringkali berkata, “Segeralah! Segeralah! Bila nafasmu telah tertahan, maka segala amal kebajikan akan terputus darimu.” Ia kemudian membaca sepotong ayat Al-Quran:
“Karena sesungguhnya kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti.” (QS. maryam : 84)
Nafas ialah saat-saat yang lembut yang akan selalu mengiringi manusia sepanjang hidupnya. Sebagian kaum arifin menyebutkan bahwa di setiap satu jam manusia menarik nafas seribu kali. Jadi dalam sehari semalam ia lazim menarik dua puluh empat ribu nafas. Sebagian yang lain mengungkapkan bahwa dalam sehari terbesit tujuh puluh ribu lintasan hati di dalam sanubari, jumlah yang sama dengan banyaknya malaikat yang memasuki baitul makmur yang tak akan keluar lagi. Tidak diragukan lagi, hati kita adalah baitul makmur, rumah yang dimakmurkan, dengan kebaikan atau dengan keburukan.
Di antara orang-orang yang telah mencapai makrifat itu senantiasa berzikir sebanyak hitungan nafasnya setiap hari, yakni dua puluh empat ribu kali. Faedah ini telah aku terapkan. Meski hitungan nafas masing-masing orang tidak sama, namun kita tahu bahwa akhir hitungan itu adalah berhentinya nafas, terpisahnya keluarga dan masuknya jasad ke dalam kubur.
Nasehat Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi di atas disampaikan beratus tahun silam, namun tetap sangat mengena dengan situasi umat Islam sekarang ini. Umat Islam di era ini telah benar-benar larut ke dalam kecintaan kepada dunia. Cinta mereka begitu menggebu-gebu hingga tiada lagi yang tersisa di dalam benak mereka selain ambisi untuk menumpuk kekayaan, kehormatan, dan kenikmatan-kenikmatan sesaat. Mereka tak lagi mengingat kematian, sesuatu yang pasti memupuskan dunia dan mengantarkan mereka menuju kehidupan yang hakiki. Di manakah sikap qana’ah saat ini? Siapakah gerangan yang masih kuat berpegang pada sikap itu di tengah derasnya arus kehidupan materialistik yang mendera umat manusia…..?
Sumber: forsansalaf.com
Selasa, 14 Februari 2017
Anda Punya Hutang? Tenang, Allah Akan Menolong!
ORANG yang mempunyai banyak hutang kemudian bertekad untuk melunasinya, sungguh Allah sangat melihat usahanya dan InsyaAllah akan menolongnya. Beda halnya dengan orang yang justru menghindar dan lari dari hutang-hutangnya.
Ibnu Majah dalam sunannya membawakan dalam Bab “Siapa saja yang memiliki utang dan dia berniat melunasinya.” Lalu beliau membawakan hadits dari Ummul Mukminin Maimunah.
Dulu Maimunah ingin berutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan, “Jangan kamu lakukan itu!” Sebagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu Maimunah mengatakan, “Iya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan kekasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika seorang muslim memiliki utang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi utang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi utang tersebut di dunia.” (HR. Ibnu Majah, no. 2408; An-Nasa’i, no. 4690. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Juga terdapat hadits dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berutang (yang ingin melunasi utangnya) sampai dia melunasi utang tersebut selama utang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah, no. 2409. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Dalam riwayat lainnya disebutkan pula hadits dari Maimunah, ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa yang mengambil utangan, lantas ia bertekad untuk melunasinya, maka Allah akan menolongnya.” (HR. An-Nasa’i, no. 4691. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Siapa yang mengambil harta orang lain (di antaranya berutang, pen.) lantas ia bertekad untuk mengembalikannya, maka Allah akan menolongnya (untuk melunasi utang tersebut, pen.). Siapa yang meminjam harta orang lain (di antaranya berutang, pen.) lantas ia bertekad untuk tidak mengembalikannya, maka Allah akan menghancurkan dirinya (hidupnya akan sulit, pen.).” (HR. Bukhari, no. 2387. Lihat pengertian hadits ini dalam Minhah Al-‘Allam, 6: 257-258)
Saudaraku, maka dari itu jangan pernah menyerah untuk selalu berusaha melunasi hutang-hutang kita. Karena dengan janji-Nya Allah mengatakan akan membantu siapapun yang berusaha untuk melunasi hutang-hutangnya. Wallahu ‘alam. []
Sumber: forsansalaf.com
Senin, 13 Februari 2017
Amalan Agar Husnul Khotimah dari Al-qutb Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik
Baik dan buruknya manusia itu tergantung di akhir hayatnya. Jika ia mati dalam keadaan membawa iman (husnul khotimah) maka surga akan menjadi tempatnya kelak. Namun, apabila ia mati dalam keadaan berlumuran dosa dan tanpa iman (suul khotimah) maka neraka akan menjadi tempatnya yang abadi. Naudzu billahi min dzalik. Abdullah bin Muthrif mengatakan:
ما من الله على عبد افضل من ان يميته على الاسلام.
Tidak ada anugrah pemberian Allah SWT kepada seorang hamba yang lebih utama dan berharga melebih kematian dalam keadaan Islam.
Semua orang menginginkan meninggal dengan husnul khotimah, meninggal dengan mambawa Iman dan Islam. Ada satu amal yang diajarkan oleh al-Qutub al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik untuk memperoleh khusnul khotimah.
Dalam acara rutinan raukha 3 Jumadal Ula, 1355 H. Pada acara rauhah di Kediama beliau di Gresik, al Habib Abu Bakar bin Muhammad assegaf menuntun orang-orang yang hadir di acara tersebut dengan kalimat jalalah berikut ini:
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَوْجُودْ فِيْ كُلِّ زَمَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَعْبُودْ فِيْ كُلِّ مَكَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَذْكُورْ بِكُلِّ لِسَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَعْرُوفْ بِاْلاِحْسَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِى شَأْن
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْأَمَانْ اَلْأَمَانْ مِنْ زَوَالِ الْاِيْمَانْ
وَمِنْ فِتْنَةِ الشَّيْطَانْ، يَا قَدِيْمَ الْاِحْسَانْ
كَمْ لَكَ عَلَيْنَا مِنْ إِحْسَانْ،
اِحْسَانُكَ الْقَدِيمْ ,يَا حَنَّانْ يَا مَنَّانْ،
يَا رَحِيمُ يَا رَحْمَانْ, يَا غَفُورُ يَا غَفَّارْ، اِغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا
وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينْ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.
Setelah beliau menuntun hadirin dengan dzikir di atas beliau bercerita: ” Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang sholeh dia adalah al-Qodhi Abdullah al-Baghdadiy . Dia berkata : “Aku pernah melihat Nabi Muhammad SAW di dalam mimpi dan beliau terlihat pucat sekali lalu aku berkata kepada Nabi Muhammad SAW : “Kenapa engkau wahai Nabi, wajah engkau pucat sekali ?” Lalu Nabi Muhammad SAW menjawab : “Di malam ini telah meninggal 1.500 orang dari ummat-KU, dua dari mereka meninggal dalam keadaan iman dan sisanya meninggal tanpa membawa iman (su’ul khotimah).” Aku berkata lagi kepada Nabi Muhammad SAW : “lalu apa kiat-kiat dari engkau untuk orang-orang yang bermaksiat agar mereka meninggal dengan membawa iman?” Nabi Muhammad SAW berkata: “Ambilah kertas ini dan baca isinya, siapa orang membacanya dan membawanya lalu dia memindah dari satu tempat ke tempat yang lain ( menyebarkan dan mengajarkan ) maka termasuk dari golongan-KU dan akan meninggal dalam keadaan membawa iman, akan tetapi siapa orang yang telah mendengarkannya dan dia tidak membacanya, tidak menyebarkannya maka dia lepas dari aku dan akupun lepas darinya.” Seketika itu aku langsung terbangun dari tidurku dan aku lihat kertas tersebut yang telah ada di genggamanku ternyata di dalamnya berisi tulisan yang penuh barokah , isi tersebut adalah :
بسم الله الرحمن الرحيم
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَوْجُودْ فِيْ كُلِّ زَمَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَعْبُودْ فِيْ كُلِّ مَكَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَذْكُورْ بِكُلِّ لِسَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَعْرُوفْ بِاْلاِحْسَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِى شَأْن
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْأَمَانْ اَلْأَمَانْ مِنْ زَوَالِ الْاِيْمَانْ
وَمِنْ فِتْنَةِ الشَّيْطَانْ، يَا قَدِيْمَ الْاِحْسَانْ
كَمْ لَكَ عَلَيْنَا مِنْ إِحْسَانْ،
اِحْسَانُكَ الْقَدِيمْ ,يَا حَنَّانْ يَا مَنَّانْ،
يَا رَحِيمُ يَا رَحْمَانْ, يَا غَفُورُ يَا غَفَّارْ، اِغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا
وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينْ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.
Wallahu a’lam.
Sumber: forsansalaf.com
Minggu, 12 Februari 2017
Manfaat Besar Membaca Kalam Salaf
Kalam Habib Umar bin Segaf as-Segaf
Membaca sejarah tentu teramat penting untuk dilakukan. Betapa tidak, kita semua merupakan bagian dari sejarah yang terus bergulir bersama detik demi detik kehidupan. Kita semua perlu bercermin pada sejarah. Sejarah menawarkan opsi kepada diri kita untuk menjadi pribadi yang sukses atau gagal. Kalau ingin sukses, hendaknya kita meneladani langkah-langkah para tokoh sejarah yang dahulu meraih kesuksesan. Sebaliknya, kalau kita sama sekali tidak ingin menjadi orang sukses, kita boleh berbuat apa saja sesuka hati seperti halnya orang-orang yang hidupnya sia-sia.
Oleh karena itu, Imam Sufyan bin Uyainah berkata: “Manakala sejarah orang-orang shaleh disebut, maka rahmat-Nya turun.” Dari sini kita bisa memafhumi betapa sejarah hidup kaum shalihin merupakan salah satu wasilah atau perantara yang bisa mengantarkan kita kepada rahmat Yang Maha Kuasa. Sejarah mereka adalah cahaya yang mampu membimbing kita kepada kesuksesan hakiki, yakni menggapai ridha Allah SWT.
Bila membaca sejarah orang-orang shaleh dapat memberikan faedah ukhrawi yang sangat besar, maka mencatat sejarah mereka jauh lebih berfaedah lagi. Mencatat sejarah para auliya dan shalihin pada hakikatnya sama saja dengan menyebarkan dan mengabadikan nilai-nilai perikehidupan mereka. Berikut penuturan Habib Umar bin Segaf as-Segaf, tokoh sufi besar di Sewun Hadramaut, mengenai pentingnya mencatat serta membaca sejarah kaum shalihin:
Ketahuilah bahwasanya hal paling bermanfaat bagi seorang salik (orang menempuh jalan sufisme) yang sadar serta paling penting guna mengingatkan atau menyadarkan orang yang lalai adalah mengenang perjalanan hidup orang-orang shaleh, baik yang hidup di masa lampau mau pun yang hidup di masa akhir. Lebih khusus lagi orang-orang shaleh yang hidup belakangan ini, sebab mereka menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT di masa ketika orang-orang telah berpaling. Mata hati mereka dinyalakan oleh Allah SWT sewaktu seluruh mata hati telah menjadi buta. Mereka zuhud dan merasa cukup dengan rejeki sedikit tatkala kerakusan dan ketamakan merajalela di dunia ini.
Syekh Fadhal pernah berpesan kepada sebagian muridnya: “Catatlah kisah-kisah mengenai mereka (kaum shalihin) sebab hal itu mampu menghidupkan hati dan melebur dosa-dosa.”
Imam Ahmad bin Zein al-Habsyi berkata: “Pemahaman adalah cahaya yang terbit di dalam hati. Tiada akan dikaruniai pemahaman ini kecuali orang yang kerap duduk dengan kaum shalihin dan menelaahi kitab-kitab mereka.”
Guru para guru, yakni Syekh Zaruq pernah berkata: “Apabila kaum shalihin disebut di dalam suatu majelis, maka rahmat akan turun. Dari rahmat ini Allah SWT menciptakan awan yang bakal jatuh sebagai hujan di bumi orang-orang kafir. Nah, setiap orang kafir yang minum tetesan air hujan ini bakal masuk Islam…”
Sebagian kaum arifin berkata: “Di antara kewajiban murid kepada guru adalah memelihara ilmu-ilmu dan faedah-faedah yang ia dapat, kemudian menyampaikannya kepada generasi berikutnya sehingga mereka dapat mengambil faedah itu. Para guru pun memperoleh pahala yang melimpah dari setiap orang yang mengambil faedah dari ilmu mereka. Dengan begitu, bisa diketahui bahwa setiap keistimewaan telah dilimpahkan Allah SWT kepada para guru ini dan nama mereka akan terus disebut. Betapa banyak nama ulama yang tenggelam sepeninggal mereka. Betapa banyak llmu mereka yang terlupakan. Ada sebaris syair yang mengungkapkan:
Rahasia-rahasia di dalam zawiyah sirna
Tiada seorang pun yang mengingatnya
Karomah para wali menghilang pula
Bila buku-buku tak mencatatnya
Dari kasidah ini aku menggubah syair,
Karena lalai, betapa banyak hal yang sirna dari kita
Dengan menjaganya, akan lestari syiar-syiar untuk kita
Dikatakan pula bahwa apa yang tertulis bakal terjaga dan apa yang terlantar akan hilang. Apa yang ditulis bakal lestari dan apa yang diabaikan bakal lepas. Disebutkan dalam atsar (perkataan sahabat nabi) bahwasanya orang yang mencatat sejarah seorang wali akan berkumpul dengan sang wali yang dicatat di hari kiamat kelak. Barangsiapa membaca nama wali dalam kitab sejarah dengan disertai perasaan cinta, maka ia seolah-olah telah menziarahinya. Barangsiapa menziarahi wali, maka Allah SWT menghapus dosanya selama ia tidak mengusik sang wali dalam ziarahnya atau mengganggu seorang muslim dalam perjalanan ziarahnya. Gangguan itu akan membatalkan fadhilah ziarah.
Sebuah riwayat menuturkan bahwa barangsiapa menulis sejarah seorang mukmin, maka ia seolah-olah menghidupkannya. Barangsiapa membaca sejarah seorang mukmin, maka ia seolah-olah menziarahinya. Barangsiapa menghidupkan seorang mukmin, maka ia seolah-olah menghidupkan seluruh umat manusia. Ini adalah fadhilah menelaahi sejarah seorang mukmin. Bagaimana dengan sejarah tokoh-tokoh yang berkat menyebut nama mereka saja rahmat Allah SWT diturunkan dan dosa-dosa terampuni?
Syekh Fadhal berkata: “Barangsiapa shalat di belakang orang yang diampuni, maka dosanya diampuni juga. Barangsiapa makan bersama orang yang diampuni, maka dosanya diampuni juga. Barangsiapa duduk bersama orang-orang shaleh, maka semangatnya pada ketaatan bertambah.”
Sementara itu para ulama berkata: “Bila kamu tidak bisa menjumpai mereka, maka kamu bisa menghidupkan hati dan bashirah (mata hati) dengan kalam-kalam mereka.”
Habib Abdullah bin Alwi al-Hadddad bersyair:
Sungguh, membicarakan para kekasih bisa mengobati..
Hati dari penyakit kronis yang menjangkiti…
Andai aku tak bisa dekat atau bersua para kekasih
Maka menyebut mereka adalah pelipur dari rasa sepi di hati
Mengingat mereka adalah kesenangan dan kedamaianku
Dengannya hatiku bersih dan bathinku jadi jernih…
sumber: forsansalaf.com
Sabtu, 11 Februari 2017
Agar Bekerja Bernilai Ibadah
Kalam Habib Abdullah bin Husein bin Thahir
Selama di dunia, mau tak mau kita harus berusaha terlebih dahulu untuk memperoleh kebutuhan hidup. kita tidak boleh berpangku tangan saja sembari mengharap belas kasihan orang lain. Dalam islam, orang yang memberi lebih terhormat daripada orang yang menerima. Seorang mukmin yang tegar dan mampu mandiri lebih utama daripada seorang mukmin yang lemah dan selalu menggantungkan nasibnya kepada orang lain.
Anggapan bahwa islam adalah ajaran yang cenderung mengajak orang bermalas-malasan adalah anggapan yang salah. Justru islam melalui al-Qur’an dan hadis-hadis memotivasi umatnya agar menjadi manusia pekerja keras dan pantang menerima belas kasih orang lain. Sejarah menyebutkan bahwa para nabi dan rasul aktif bekerja. Ada yang menjadi petani, pengembala, tukang kayu dan beragam profesi lainnya. Tokoh-tokoh penyebar agama islam di Indonesia pun adalah ulama-ulama yang ulet berniaga di samping kegigihan mereka berdakwah.
Bekerja bisa bernilai ibadah dan bahkan pahalanya melebihi ibadah-ibadah sunnah apabila didasari dengan niat baik serta dilakukan sesuai syari’at. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui pola kerja sesuai tuntunan Rasulullah Saw. Dengan bekerja secara benar, niscaya kita mendapatkan keuntungan ganda, materi dunia dan pahala di akhirat. Ibarat sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.
Mari kita simak penuturan al-Imam Habib Abdullah bin Husein bin Thahir al-‘Alawi tentang cara bekerja yang baik dan berkah berikut ini,
“Ketika kalian hendak memasuki dunia kerja, persiapkanlah niat-niat yang baik terlebih dahulu. Mencari rejeki yang halal adalah wajib bagi setiap insan muslim. Untuk itu, niatkanlah di dalam hati bahwa tujuan kalian bekerja adalah untuk mendapatkan rejeki halal yang dapat menunjang kehidupan agama kalian, menjaga martabat kalian serta keluarga kalian agar tidak meminta-minta kepada orang lain juga untuk menghindarkan diri kalian dari sikap ingin memiliki hak-hak orang lain.
Akan tetapi, di tengah-tengah kesibukan kerja, janganlah kalian melalaikan urusan akhirat. Luangkan waktu untuk mempelajari ilmu syari’at yang diwajibkan kepada kalian, laksanakan salat lima waktu dengan berjama’ah, jagalah keistiqamaan kalian dalam membaca wirid-wirid.
Allah Swt berfirman,
رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ
‘Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.’
Selanjutnya Allah Swt mengingatkan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.
Pelajarilah ilmu yang berkaitan dengan bidang kerja kalian, agar kalian dapat mengambil sikap yang benar dan tidak merugikan orang lain. Sehingga kalian selamat dari perbuatan dosa dan maksiat.
Hindarilah cara kerja yang tidak benar dan menyalahi aturan syari’at. Sebab harta yang dihasilkan dengan cara tersebut adalah haram. Harta haram hakikatnya menjijikkan dan akan lenyap dari tangan pemiliknya dengan cepat. Hal itu telah terbukti dan pasti akan dirasakan oleh mereka yang melakukannya.
Sesungguhnya ibadah yang dilaksanakan oleh orang yang memakan barang haram atau memakai baju yang haram takkan diterima oleh Allah Swt. Penyusun Zubad menggambarkan,
‘ Dan ketaatan dari seseorang yang memakan barang haram,
Adalah semisal bangunan yang didirikan diatas ombak lautan.
Dalam hadis disebutkan bahwa orang yang memakan barang haram, maka sekujur tubuhnya akan mengerjakan kemaksiatan, baik ia menghendakinya ataupun tidak. Sebuah kata bijak berbunyi, “Makanlah semua yang kalian inginkan, niscaya seperti jenis makanan kalian itulah bentuk amal perbuatan kalian.”
Kemudian manakala kalian dikarunia harta yang halal, pergunakanlah dengan tata cara dan niat yang baik. Makanlah secukupnya dan jangan sampai terlalu kenyang. Sebab perut yang dipenuhi dengan makanan sekalipun halal akan menjadi pemicu perbuatan-perbuatan nista. Bisa dibayangkan, bagaimana jika dipenuhi dengan makanan yang haram.
Rasulullah Saw mewartakan, “Tiada wadah yang penuh yang lebih jelek daripada perut. Sebenarnya cukup bagi manusia beberapa suap makanan untuk menegakkan tubuhnya. Jika memang menghendaki lebih, maka yang layak adalah sepertiga perutnya untuk makanan, sepertiganya lagi untuk minum, dan sepertiga yang terakhir untuk nafasnya.” Disebutkan pula bahwa kebanyakan penyakit penyebabnya adalah kekenyangan perut.
Ketahuilah, sesungguhnya harta yang sedikit namun halal lebih baik dan lebih mendatangkan berkah daripada harta melimpah namun haram atau syubhat.
Apabila kalian telah mendapatkan rejeki yang sekiranya mencukupi kebutuhan kalian di waktu itu , maka qana’ah (merasa cukup)-lah dengannya lalu bersyukurlah kepada Allah serta jangan mengharapkan yang berlebihan untuk masa yang akan datang.
Janganlah kalian bersikap tamak dan selalu mengharap lebih, sehingga tubuh dan hatimu akan kecapaian karenanya. Asal tahu saja, sesungguhnya takkan sampai kepada kalian kecuali rejeki yang telah ditakdirkan untuk kalian.
Ketahuilah, sesungguhnya nikmat-nikmat Allah yang dikaruniakan kepada kalian yang bukan berupa harta benda jauh lebih besar daripada kenikmatan yang berupa harta benda.
Hati-hatilah, jangan pernah menipu, berkhianat ataupun berbohong dalam setiap pekerjaan kalian. Karena semua tindakan itu memancing amarah Allah Swt dan menghapus keberkahan dari jerih payah kalian. Dasarilah segala urusan pekerjaan kalian dengan sikap jujur dan nasihah. Keluarkan semua hak yang diwajibkan dalam harta kalian seperti zakat, pelunasan utang, serta nafkah-nafkah yang wajib dengan senang hati dan lapang dada.”
Dalam nasehat-nasehatnya di atas, Habib Abdullah bin Husein bin Thahir menekankan bahwa tujuan bekerja adalah untuk mendapatkan rejeki dari Allah Swt yang bisa mencukupi kebutuhan keseharian kita dan bukan untuk mencari kekayaan. Adapun yang kita ketahui sekarang ini, orang-orang bekerja untuk menumpuk kekayaan. Sehingga tindakan saling tipu, saling khianat dan trik-trik kotor lainnya mewarnai dunia usaha kita.
sumber: forsansalaf.com
Menata Niat Sebelum Menikah
Pernikahan adalah salah satu ibadah dan sunnah nabi. Sebagaimana dimaklumi, ibadah bisa membuat seseorang mendapatkan pahala apabila dibarengi dengan niat yang baik. Amal kebajikan tergantung niatnya. Bila niatnya baik, amal baik akan membuahkan pahala. Bila niatnya busuk, amal baik bakal sia-sia.
وَاِذَا تَعَلَّقَتْ النِّيَةُ الْخَبِيْثَةُ بِالْعَمَلِ الطَّيِّبِ أَفْسَدَتْهُ وَصَيَّرَتْهُ خَبِيْثًا.
Al-habib Abdullah bin Alawy alhaddad berkata dalam kitabnya risalul muawanah hal. 26 :
Apabila niat jelek berhubungan dengan perbuatan baik, maka niat yang jelek bisa merusak dan menjadikannya jelek pula.
ِقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :اِنَّمَا الْاَعْمَالُ بِالنِّيَات
Nabi Muhammad saw bersabda : hanya saja amal-amal itu tergantung niatnya.
Nabi Muhammad saw bersabda : hanya saja amal-amal itu tergantung niatnya.
Karena itu, bagi bujang yang akan menuju ke pernikahan alangkah baiknya memikirkan niat terlebih dahulu sebelum memikirkan biaya pernikahan.
وكان سفيان الثوري يقول : من تزوج فقد أدخل الدنيا بيته، ومن أدخل الدنيا بيته فقد تزوج ابنة ابليس، ومن تزوج ابنة ابليس أكثر ابليس التردد لأجل ابنته، فحذروا من التزويج.
قلت : كلام سفيان رضي الله عنه فى حق من تزوج بغير نية صالحة.
قلت : كلام سفيان رضي الله عنه فى حق من تزوج بغير نية صالحة.
Al-imam Sufyan astauri pernah berkata : Barangsiapa menikah maka dia telah memasukkan dunia kedalam rumahnya, dan siapa yang telah memasukan dunia kedalam rumahnya maka dia telah memasukan anak perempuannya iblis. Dan siapa yang telah nikah dengan anak perempuannya iblis maka pasti iblis akan sering mondar-mandir ke dalam rumahnya karena terdapat anaknya. Oleh karena itu berhati-hatilah dari pernikahan !
Kalam imam Sufyan astauri itu ditafsirkan oleh al-arif billah Abdul Wahhab Assya’roni didalam kitabnya tanbiihul-mughtarrin hal.71 : kalam imam Sufyan astauri itu ditujukan bagi orang yang nikah dengan niat tidak baik atau niat jelek.
Diantara niat-niat yang perlu kita lakukan ketika akan menikah.
1- menjalankan sunnah Nabi muhammad saw.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : النكاح سنتي فمن رغب عن سنتي فليس مني.
Nabi muhammad saw bersabda ” nikah adalah termasuk dari sunnah-Ku siapa orang benci sunnah-ku maka dia bukan termasuk golongan-ku. ”
2- untuk menjaga diri dari maksiat.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج فانه اغض للبصر واحصن للفرج.
Nabi Muhammad saw bersabda ” wahai para pemuda siapa yang mampu di antara kalian untuk menikah maka, menikahlah karena sesunggunya pernikahan tersebut membatasi pandangan dan menjaga kemaluan ”
Nabi Muhammad saw bersabda ” wahai para pemuda siapa yang mampu di antara kalian untuk menikah maka, menikahlah karena sesunggunya pernikahan tersebut membatasi pandangan dan menjaga kemaluan ”
3- melakukan sebab untuk mendapatkan anak sholeh yang akan mendoakan kedua orang tua setelah meninggal.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : اذا مات ابن ادم انقطع عمله الا مم ثلاث : صدقة جارية، او علم ينتفع به ، او ولد صالح يدعو له.
Nabi Muhammad saw bersabda ” apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara : shodaqoh jariyah, ilmu yang manfaat dan anak sholeh yang mendoakan orang tuanya “.
Dan masih banyak lagi niat-niat ketika mau menikah yang telah diatur oleh para salaf kita.
Wallahu a’lam
sumber: forsansalaf.com
Langganan:
Postingan (Atom)
















