Jumat, 03 Februari 2017

Hukum Minum Sambil Berdiri


Pertanyaan:
Ustadz, bagaimana hukumnya minum sambil berdiri, apakah boleh ?
Jawab:
Meminum sambil berdiri  tanpa adanya uzur menurut pendapat yang kuat hukumnya adalah Khilaful Aula (menyelisihi yang lebih utama). Minum sambil duduk itu lebih baik daripada minum sambil berdiri atau berbaring. Bahkan Imam Nawawi dalam Syarah Muslim mengatakan bahwa hukumnya adalah Makruh.
Rasulullah SAW selalu minum sambil duduk, pernah Rasulullah SAW minum sambil berdiri, akan tetapi itu hanyalah untuk menjelaskan bahwa minum sambil berdiri bukanlah hal yang haram. Melainkan Khilaful Aula atau Makruh.
Minum sambil berdiri tidak dianjurkan karena ada larangan dari Nabi SAW. Minum sambil berdiri juga dapat menimbulkan beberapa dampak negatif, diantaranya adalah:
  1. Tidak akan memberikan kesegaran secara sempurna.
  2. Air tidak menetap di lambung yang (seharusnya) bisa dibagi oleh hati ke seluruh tubuh.
  3. Air langsung masuk ke lambung dengan cepat, hal ini dapat membahayakan pencernaan.
Dianjurkan bagi orang yang terlanjur minum sambil berdiri dengan sengaja atau lupa untuk melakukan hal-hal berikut ini:
  1. Memuntahkannya, ini berdasarkan sabda Nabi SAW:
لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا فَمَنْ نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ
Janganlah salah seorang dari kalian minum sambil berdiri. Jika ada yang lupa maka muntahkanlah. (HR Muslim)
  1. Membaca do’a :
اللهم صل على سيدنا محمد الذي شرب الماء قائما وقاعدا
Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammadin alladzi syaribal ma’a qoiman wa qo’idan.
Ya Allah limpahkan shalawat kepada Sayidina Muhammad yang pernah minum air sambil berdiri dan sambil duduk.
Dengan sebab ini, insya Allah ia akan terhindar dari bahaya yang disebabkan minum sambil berdiri.
  1. Menurut sebagian ahli hikmah menggerak-gerakan jempol kaki ketika minum sambil berdiri dapat mencegah akibat buruknya.
Wallahu A`lam
Referensi:
إعانة الطالبين – (ج 3 / ص 417)
(قوله: والشرب قائما خلاف الاولى) عبارة الروض وشرحه: والشرب قاعدا أولى منه قائما أو مضطجعا، فالشرب قائما بلا عذر خلاف الاولى، كما اختاره في الروضة، لكنه صوب في شرح مسلم كراهته، وأما شربه (ص) قائما فلبيان الجواز.قال في شرح مسلم: ويستحب لمن شرب قائما عالما أو ناسيا أن يتقيأه: لخبر مسلم لا يشربن أحدكم قائما، فمن نسي فليستقئ اه(واعلم) أنه استثنى بعضهم شرب ماء زمزم وقال: إنه يسن الشرب منه قائما اتباعا، فقد صح عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي (ص) شرب من زمزم وهو قائم ورده الباجوري في حاشية الشمائل بما نصه: وإنما شرب (ص) وهو قائم، مع نهيه عنه، لبيان الجواز، ففعله ليس مكروها في حقه، بل واجب، فسقط قول بعضهم إنه يسن الشرب من زمزم قائما اتباعا له (ص)، ولا حاجة لدعوي النسخ أو تضعيف النهي لانه حيث أمكن الجمع وجب المصير إليه.ثم قال: قال ابن القيم للشرب قائما آفات منها: أنه لا يحصل به الري التام، ولا يستقر في المعدة حتى يقسمه الكبد على الاعضاء، ويلاقي المعدة بسرعة، فربما برد حرارتها ويسرع النفوذ إلى أسافل البدن فيضر ضررا بينا، ومن ثم سن أن يتقيأه، ولو فعله سهوا، لانه يحرك أخلاطا يدفعها القئ.ويسن لمن شرب قائما أن يقول: اللهم صل على سيدنا محمد الذي شرب الماء قائما وقاعدا فإنه بسبب ذلك يندفع عنه الضرر.وذكر الحكماء أن تحريك الشخص إبهامي رجليه حال الشرب قائما يدفع ضرره.
أسنى المطالب – (ج 15 / ص 430)(
 وَالشُّرْبُ قَاعِدًا أَوْلَى ) مِنْهُ قَائِمًا أَوْ مُضْطَجِعًا فَالشُّرْبُ قَائِمًا بِلَا عُذْرٍ خِلَافُ الْأَوْلَى كَمَا اخْتَارَهُ فِي الرَّوْضَةِ لَكِنَّهُ صَوَّبَ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ كَرَاهَتَهُ وَأَمَّا شُرْبُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا فَلِبَيَانِ الْجَوَازِ قَالَ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ وَيُسْتَحَبُّ لِمَنْ شَرِبَ قَائِمًا عَالِمًا أَوْ نَاسِيًا أَنْ يَتَقَيَّأَ لِخَبَرِ مُسْلِمٍ { لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدُكُمْ قَائِمًا فَمَنْ نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ } .

sumber: forsansalaf.com

Rabu, 01 Februari 2017

Puasa Tapi Tidak Shalat


Pertanyaan:
Bagaimana hukum orang yang berpuasa tetapi tidak melaksanakan shalat?
Jawaban:
Dalam Madzhab Syafii orang yang meninggalkan shalat dibagi menjadi dua golongan:
  • Orang yang tidak shalat lima waktu karena menganggap shalat itu tidak wajib, orang yang seperti ini dihukumi murtad. Jika demikian maka seluruh ibadahnya termasuk puasanya dianggap tidak sah.
  • Orang yang tidak shalat lima waktu karena malas, ia tetap yakin bahwa shalat itu wajib. Orang yang demikian ini adalah orang fasik, ibadahnya tetap sah. Jadi puasanya tetap sah dalam artian tidak perlu diqodho, namun apakah pahalanya diterima atau tidak, itu adalah hak Allah SWT. Yang jelas ia telah melakukan dosa yang teramat besar dengan meninggalkan shalat dan orang yang tetap melakukan dosa ketika puasa termasuk ke dalam orang yang dikatakan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
Bertapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar. (HR Ibnu Majah)
.
  Wallahu `alam
Referensi:
المنهاج القويم شرح المقدمة الحضرمية (ص: 201)
فصل: “في تارك الصلاة”
من جحد وجوب” الصلاة “المكتوبة” أي إحدى الخمس “كفر”لإنكار ما هو مجمع عليه معلوم من الدين بالضرورة. “أو تركها” بلفظ الماضي أي المكتوبة دون المنذورة ونحوها “كسلا أو” ترك “الوضوء” لها أو شرطًا آخر من شروطها إن أجمع عليه “أو” ترك “الجمعة و” إن “صلى الظهر” لأنه لا يتصور قضاؤها والظهر ليست بدلا عنها “فهو” مع ذلك “مسلم” لما في الحديث “إن الله إن شاء عفا عنه وإن شاء عذبه” والكافر لا يدخل تحت المشيئة ولا يعارضه خبر مسلم: “بين العبد وبين الكفر ترك الصلاة”, لأنه محمول على الجاحد أو على التغليظ. “و” مع كونه مسلمًا “يجب” على الإمام أو نائبه “قتله” ولو بصلاة واحدة لكن يشترط إخراجها عن وقت الضرورة فلا يقتله بترك الظهر حتى تغرب الشمس ولا بترك المغرب حتى يطلع الفجر، ويقتله في الصبح بطلوع الشمس وفي العصر بغروبها وفي العشاء بطلوع الفجر، فيطالب بأدائها إذا ضاق وقتها ويتوعد بالقتل إن أخرجها عن الوقت، فإذا خرج الوقت ضرب عنقه “بالسيف بعد الاستتابة إن لم يتب” قياسًا على ترك الشهادتين بجامع أن كلا3 ركن للإسلام ولا يدخله نيابة ببدن ولا مال بخلاف بقية الأركان. والاستتابة مندوبة، وإنما وجبت استتابة المرتد لأن الردة تخلد في النار فوجب إنقاذه منها بخلاف ترك الصلاة، ويندب أن تكون استتابته حالا، ومن قتله في مدة الاستتابة أو قبلها أثم ولا ضمان عليه
فيض القدير (4/ 21)
رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع قال الغزالي : قيل هو الذي يفطر على حرام أو من يفطر على لحوم الناس بالغيبة أو من لا يحفظ جوارحه عن الآثام

 sumber: forsansalaf.com

Ketaatan yang Paling Utama


Imam Hasan al Bashri pernah bertanya kepada murid-muridnya tentang, “ Apakah amal yang paling baik?” Mereka menjawab dengan jawaban beragam. Ada yang menyebut shalat, ada yang menyebut haji, ada pula menyebut ibadah lainnya. Semua jawaban itu tidak memuaskan Hasan al Bashri, sampai ada dari salah satu muridnya yang mengatakan, “Yang paling utama adalah meninggalkan kemaksiata.”
“Kamu benar, amalan yang yang paling utama di sisi Allah adalah meninggalkan kemaksiatan. “ Jawab Hasan al Bashri.
Mengapa demikian? Meninggalkan maksiat memang lebih berat daripada melakukan ketaatan. Ibadah shalat dan puasa misalnya, anak kecil pun sanggup melakukan keduanya. Tetapi untuk meninggalkan maksiat yang terkecil saja, banyak orang dewasa yang belum mampu melakukannya.
Salah satu kaidah fiqih berbunyi:
درء المفاسد أولى من جلب المصالح
Mencegah suatu resiko mafsadah (bahaya) lebih layak diutamakan daripada menarik suatu potensi maslahah (kebaikan).
Maksudnya, jika terpaksa harus memilih di antara keduanya maka mencegah mafsadah lebih didahulukan walau harus mengorbankan kemaslahatan.
Diceritakan dalam Kitab “Al Manhaajus Saawy,” ada seorang yang melewatu suatu gang yang sering dilalui manusia. Ia berinisiatif untuk menancapkan tiang di jalan itu. Ia bermaksud agar tiang itu dapat memudahkan orang yang ingin menggantung pakaian atau untuk fungsi lain untuk memudahkan orang.  Lalu datang orang kedua yang melewati gang, uniknya ia justru mencabut tiang itu. Ia memiliki pemikiran lain, ia khawatir tiang itu akan membuat celaka orang yang melewati gang seperti orang buta misalnya.  Dua orag ini sama-sama mendapatkan pahala atas dasar niat masing-masing, tapi orang kedua mendapatkan pahala yang lebih besar, sebab tujuan dia adalah mencegah satu resiko celaka walaupun harus mengorbankan potensi maslahat di sisi yang lain.
Wal hasil, jangan pernah kita menganggap remeh suatu kemaksiatan. Jika kita mampu meninggalkannya, itulah kesuksesan terbesar kita di sisi Allah SWT.
 وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ  ﴿١٥﴾؅ “
Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (An Nuur : 15)
Semoga bermanfaat..

sumber: forsansalaf.com

Harmonisasi Jasmani dan Hati


Kalam Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi
Shalat merupakan identitas sejati seorang muslim. Shalat inilah yang menjadi pembeda Islam dengan syirik. Lebih dari itu, shalat adalah kendaraan yang disediakan Sang Khalik bagi tiap pribadi muslim agar bisa “terbang” dan berkomunikasi dengan-Nya tiap hari. Sesuai tuntunan baginda Nabi SAW, Shalat adalah kinerja hati dan jasmani yang laras, bukan gerak raga yang kosong, sekalipun masih ditolerir dalam syara’. Berdiri, ruku’, i’tidal dan sujud adalah refleksi ketaqwaan dalam ranah fisik. Adapun khusuk, hudhur dan tadabbur, itulah dialog sebenarnya antara muslim dengan Rabbul ‘Alamiin. Berikut kami ketengahkan ulasan yang dalam mengenai hakikat shalat dari seorang ulama yang telah mencapai puncak pengetahuan pada abad keduabelas Hijriyah, Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi. “Ketahuilah, Islam laksana rumah yang dibangun dengan lima pilar utama, syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Pada pilar pertama terdapat satu gerbang dengan dua lorong yang berfungsi sebagai jalan untuk memasuki rumah. Setelah syahadat, shalatlah yang utama. Menyusul puasa ramadhan, zakat dan haji. Tunaikanlah lima kewajiban ini didasari kesadaran hati. Sebab sarana paling utama bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada penciptanya adalah kelima kewajiban ini. Jagalah shalat lima waktu dan kenalilah hak-haknya. Pelajari teori-teori hukum fikihnya, yang wajib maupun yang sunah. Anda harus mengetahui kedudukan shalat dalam agama, laksana kepala dalam rangkaian raga kita. Manusia mustahil hidup tanpa berkepala, begitu pula bila shalat ditinggalkannya, maka cahaya iman di kalbu seorang muslim pun niscaya padam. Sholat adalah tiang agama. Hadis lain menyebutkan bila seorang hamba berdiri untuk shalat, Allah SWT menyingkap tirai penyekat antara diri-Nya dengan hamba. Allah SWT akan menyambutnya dengan hadirat-Nya yang mulia. Sedangkan para malaikat di sekeliling-Nya sontak berdiri, lalu beterbangan ke langit-langit untuk larut bersama si hamba dalam shalat. Kemudian mereka mengamini doa-doa yang dipanjatkan si hamba seusai shalat. Berbagai kebaikan akan dikucurkan dari kolong-kolong langit ke ubun-ubun hamba yang tengah mendirikan shalat. Lalu terdengar seruan lantang, “Andaikata orang yang sedang bermunajat menyadari, kepada siapakah ia bermunajat, niscaya ia takkan menolehkan pandangannya. Sesungguhnya pintu-pintu langit dibuka bagi orang-orang yang melaksanakan shalat. Dan di hadapan para malaikat, Allah SWT senantiasa membangga-banggakan ketulusan orang yang shalat.” Dalam Taurat, Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah kalian enggan mendirikan sholat di hadapan-Ku sembari menangis sedu. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah ‘azza wajalla yang senantiasa bersemayam di hati kalian, dan di alam ghaib nanti, kalian akan menyaksikan cahaya-Ku.” Disebutkan pula bahwa ketika seorang muslim melaksanakan shalat dua rakaat, sepuluh ribu jenis malaikat merasa takjub kepadanya, tiap satu jenis terdiri dari sepuluh ribu malaikat. Dan Allah akan membanggakan muslim itu di hadapan seratus ribu malaikat-Nya. Dalam kitab Jami’ Asbabil Khairat, karya Syaikh Muhammad al-‘Imrani, tercantum sebuah hadis riwayat Ibnu Abbas yang berbunyi, “Islam ini ibarat sebatang pohon berbuah rindang di pelataran rumah. Iman adalah akarnya, salat batangnya, puasa dahannya, zakat rantingnya, jihad kuncup bunganya Dan budi pekerti adalah buahnya. Tunaikanlah salat dengan bagus. Raihlah kesempurnaannya dengan memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun, sunah-sunah, serta adab-adabnya. Juga dengan mengetahui kepastian waktunya, senantiasa mengingatnya, dan berupaya melaksanakannya di awal waktu, Dalam shalat kita juga harus khusuk, hudhur dan ikhlas. Jangan memecah fokus shalat kepada hal lain. Tuangkan seluruh pikiran, gerakan, dan konsentrasi pada satu titik, yakni Allah SWT semata. Berusahalah seoptimal mungkin melaksanakan shalat dengan cara demikian seraya memohon kepada-Nya agar selalu diberi petunjuk dan kekuatan.
KESEMPURNAAN SHALAT
Kesempurnaan shalat bertalian pula dengan kesempurnaan thaharah (kesucian) pada pakaian, badan dan tempat shalat. Karenanya, jalankanlah keseluruhan sunah dan adab bersuci tanpa dibayang-bayangi rasa was-was. Sebuah hadis shahih menuturkan, “Barangsiapa berwudu, lalu membaguskan wudunya, maka dosa-dosanya berkeluaran dari anggota wudunya itu. Jadinya, ia akan memasuki shalat dalam keadaan steril (bersih) dari dosa.” Shalat yang sempurna bisa diwujudkan dengan menyegerakan pelaksanaannya. Awal waktu adalah ridha Allah, sedang akhir waktu adalah ampunan-Nya. Terpenting pula, kumandangkanlah azan dan iqamah sebelum shalat. Pasalnya, setan-setan akan lari berhamburan dari kita manakala seruan azan didengungkan, seperti gambaran salah satu hadis. Hati-hatilah. Hindari was-was dan bisikan-bisikan nafs dalam shalat. Hadirkan hati bersama Allah SWT dengan sikap khusuk dan penuh adab. Sejatinya, sholat yang tidak disertai kehadiran hati lebih layak menuai azab dari Allah SWT. Dalam hadis Nabi SAW, “Tiadalah seorang hamba memperoleh faedah shalatnya kecuali bagian yang ia hayati.” Agar bisa khusuk dalam shalat, hindarilah ketergesaan. Shalatlah dengan perlahan dan tenang. Lakukan ruku’ dengan rentang waktu yang lama. Demikian pula sujud serta duduk setelahnya. Perlu diketahui, orang yang tidak menyempurnakan ruku’, sujud, dan khusuknya dalam shalat bisa dikategorikan sebagai “pencuri”. Ingat, laksanakanlah shalat lima waktu secara berjamaah. Nilai shalat berjamaah melebihi shalat sendirian dengan selisih dua puluh tujuh derajat. Tidaklah cenderung meninggalkan jamaah kecuali orang-orang yang hatinya disemayami sifat nifaq. Nabi SAW pernah mewartakan, “Mari, aku beritahukan kepada kalian mengenai hal-hal yang bisa memperkenankan Allah SWT menghapus dosa-dosa dan meninggikan derajat-derajat, diantaranya adalah mengerjakan wudhu’ kala situasi kurang mengenakkan, banyaknya langkah menuju masjid, dan penantian dari satu shalat ke shalat berikutnya. Upayakan selalu shalat pada shaf pertama, dan luruskanlah shafnya. Karena shaf yang lurus adalah bagian dari kesempurnaan fadhilah berjamaah. Berjamaah sangat dianjurkan dalam shalat lima waktu. Khususnya di waktu isyak dan shubuh. Sebuah hadis memaparkan, Siapa yang melaksanakan shalat isyak dengan berjamaah, maka sama artinya ia memakmurkan separuh malam dengan sholat, dan siapa yang melaksanakan shalat shubuh dengan berjamaah, maka sama artinya ia memakmurkan seluruh malam. Sedang hadis yang lain mengimbuhi, siapa yang melaksanakan keduanya dengan berjamaah, maka ia dalam naungan Allah SWT sampai pagi dan petang hari. Shalat lima waktu kian sempurna manakala diiringi sunah rawatibnya, qabliyah maupun ba’diyah. Shalat sunah berfungsi sebagai penambal kekurangan shalat fardu. Shalat-shalat sunah yang muakkad diantaranya adalah shalat witir, shalat dua hari raya, shalat dua gerhana, istisqa’, dhuha, dan shalat sunah antara maghrib dan isya’. Fadhilah-fadhilah shalat-shalat tersebut sangatlah masyhur. Demikian pula shalat tasbih yang berkeutamaan luar biasa dan shalat malam. Nabi SAW berseru, “Laksanakanlah shalat malam, sebab shalat malam adalah tradisi kaum shalihin, sarana pendekatan diri kepada tuhan kalian, penebus dosa-dosa, penangkal maksiat dan pengusir penyakit dari jasmani kita.” Di salah satu hadis shahihnya, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya diantara malam ada satu momen. Tidaklah seorang muslim berdoa baik untuk urusan dunia maupun akhirat tepat pada momen tersebut kecuali Allah SWT pasti akan mengabulkan permintaannya. Momen itu hadir di setiap malam.”
JANGAN MENINGGALKAN SHALAT
Meninggalkan shalat? Wal’iyadzu billahi min zalik. Tidak dimungkiri, perbuatan itu adalah pelanggaran yang serius dalam Islam. Hadis-hadis menghukumi pelakunya kufur dan lepas dari naungan Allah SWT serta rasul-Nya. Orang-orang yang meninggalkan shalat lima waktu, keberkahan umur dan rejekinya akan disirnakan Allah SWT. Doa-doa orang shaleh tidak berlaku untuknya, apalagi doanya sendiri. Amal perbuatan baiknya tidak diganjar. Ia akan mati dalam keadaan haus, lapar dan terhina. Kuburnya menyempit dan gelap gulita. Allah SWT takkan sudi memandangnya apalagi membersihkannya. Dan yang paling menakutkan, sudah sediakan baginya azab yang mahadahsyat. (hadits) Esensi shalat adalah hudhur, tafahum (penghayatan), pengagungan, pengharapan dan ketulus-ikhlasan kepada Allah SWT. Sebuah hadis melukiskan bahwa Allah SWT berkenan menyambut orang yang shalat selama ia tidak menoleh. Hadis yang lain menyebutkan bahwa Allah SWT takkan memandang shalat yang di dalamnya si pelaku tidak menghadirkan hatinya. Hal senada dituturkan oleh Ibnu Abbas, “Dua rakaat dengan durasi sedang disertai tafakur lebih utama daripada berdiri sepanjang malam sedangkan hati dalam keadaan lupa.”

Sumber: forsansalaf.com

Datang Ramadhan Sebelum Sempat Mengqodho' Puasa


Pertanyaan :
Saya  ingin  bertanya: Kalau perempuan kan puasa pasti tidak full, itu artinya wanita harus mengganti di hari lain. Kalau misalnya dalam setahun tidak bisa mengganti sampai Ramadhan berikutnya bagaimana?
Jawaban :
Hukumnya dirinci sebagai berikut sebagai berikut:
  • Apabila ia tidak sempat puasa karena uzur, misalnya sakit selama setahun atau menyusui selama setahun tanpa ada waktu luang untuk mengqodhoi puasa maka ia hanya wajib mengqodho puasanya nanti setelah ada waktu luang.
  • Apabila ia tidak sempat mengqodho karena menunda-nunda sampai datang Ramadhan berikutnya maka ia berdosa. Dan nanti wajib mengqodhoi puasanya sekaligus membayar kafaroh berupa satu mud (± 0,75 kg) makanan untuk setiap hari yang ditinggalkan diberikan kepada fakir miskin. Jumlah mud ini terus bertambah seiring bertambahnya tahun. Jadi jika dua tahun tidak qodho maka ia wajib membayar dua mud untuk setiap hari yang ditinggalkan, dan seterusnya.
Jika orang yang mengakhirkan qadha puasa Ramadhan tadi mati sebelum mengqodho puasanya, maka wajib untuk dibayarkan dua mud untuk setiap hari yang ditinggalkan diambil dari harta peniunggalannya. Satu mud untuk pengganti puasa yang belum sempat diqodho, dan satu mud sebagai kafaroh pengakhiran qodho.
Kafaroh itu hanya boleh  diberian kepada fakir-miskin.
Referensi:

المنهاج للنووي (ص: 110)
وَمَنْ أَخَّرَ قَضَاءَ رَمَضَانَ مَعَ إمْكَانِهِ حَتَّى دَخَلَ رَمَضَانُ آخَرُ لَزِمَهُ مَعَ الْقَضَاءِ لِكُلِّ يَوْمٍ مُدٌّ، وَالْأَصَحُّ تَكَرُّرُهُ بِتَكَرُّرِ السِّنِينَ. وَأَنَّهُ لَوْ أَخَّرَ الْقَضَاءَ مَعَ إمْكَانِهِ فَمَاتَ أَخْرَجَ مِنْ تَرِكَتِهِ لِكُلِّ يَوْمٍ مُدَّانِ: مُدٌّ لِلْفَوَاتِ وَمُدٌّ لِلتَّأْخِيرِ.
وَمَصْرِفُ الْفِدْيَةِ الْفُقَرَاءُ وَالْمَسَاكِينُ.

sumber: forsansalaf.com