Selasa, 14 Februari 2017

Anda Punya Hutang? Tenang, Allah Akan Menolong!


ORANG yang mempunyai banyak hutang kemudian bertekad untuk melunasinya, sungguh Allah sangat melihat usahanya dan InsyaAllah akan menolongnya. Beda halnya dengan orang yang justru menghindar dan lari dari hutang-hutangnya.
Ibnu Majah dalam sunannya membawakan dalam Bab “Siapa saja yang memiliki utang dan dia berniat melunasinya.” Lalu beliau membawakan hadits dari Ummul Mukminin Maimunah.
Dulu Maimunah ingin berutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan, “Jangan kamu lakukan itu!” Sebagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu Maimunah mengatakan, “Iya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan kekasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika seorang muslim memiliki utang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi utang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi utang tersebut di dunia.” (HR. Ibnu Majah, no. 2408; An-Nasa’i, no. 4690. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Juga terdapat hadits dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berutang (yang ingin melunasi utangnya) sampai dia melunasi utang tersebut selama utang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah, no. 2409. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Dalam riwayat lainnya disebutkan pula hadits dari Maimunah, ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa yang mengambil utangan, lantas ia bertekad untuk melunasinya, maka Allah akan menolongnya.” (HR. An-Nasa’i, no. 4691. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Siapa yang mengambil harta orang lain (di antaranya berutang, pen.) lantas ia bertekad untuk mengembalikannya, maka Allah akan menolongnya (untuk melunasi utang tersebut, pen.). Siapa yang meminjam harta orang lain (di antaranya berutang, pen.) lantas ia bertekad untuk tidak mengembalikannya, maka Allah akan menghancurkan dirinya (hidupnya akan sulit, pen.).” (HR. Bukhari, no. 2387. Lihat pengertian hadits ini dalam Minhah Al-‘Allam, 6: 257-258)
Saudaraku, maka dari itu jangan pernah menyerah untuk selalu berusaha melunasi hutang-hutang kita. Karena dengan janji-Nya Allah mengatakan akan membantu siapapun yang berusaha untuk melunasi hutang-hutangnya. Wallahu ‘alam. []

Sumber: forsansalaf.com

Senin, 13 Februari 2017

Hukum Makan di Warung Orang Kafir


Pertanyaan:
Bagaimana hukum makan di warung milik orang kafir?
Jawaban:
Makan makanan orang non muslim itu boleh saja asalkan halal seperti buah-buahan, cuka atau lainnya. Yang perlu diperhatikan adalah jika yang dibeli adalah daging sembelihan, sebab daging sembelihan yang halal adalah jika yang menyembelih adalah orang Islam atau orang Yahudi dan Nasrani asli (yang leluhurnya masuk agama Yahudi atau Nasrani sebelum ada perubahan dan distorsi dalam agama mereka). Adapun daging sembelihan kaum Yahudi dan Nasrani baru (yang baru masuk agama tersebut atau leluhurnya masuk agama Yahudi dan Nasrani setelah ada perubahan dalam agama mereka), orang-orang majusi atau Hindu, Budha dan agama lainnya maka tidak halal dimakan oleh umat Islam.
Perlu juga diperhatikan bahwa memakai alat makan kaum non muslim dan pakaian mereka hukumnya makruh jika mereka tidak menjaga diri dari najis.
Referensi:
النجم الوهاج في شرح المنهاج (1/ 418)
ولا بأس أن يشترى من أهل الذمة خل لم يتعمدوا إفساده؛ لقوله تعالى: {وطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ}.
التهذيب في فقه الإمام الشافعي (8/ 3)
كتاب الصيد والذبائح
قال الله تعالى: {وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا} [المائدة: 2].
تحل ذبيحة المسلم العاقل، رجلاً كان أو امرأة، حراً أو عبداً، وكذلك: ما اصطاده بجارحته المعلمة، فقتله، وتحل ذبيحة اليهودي والنصراني؛ لقوله تعالى: {وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ} [المائدة: 5].
ولا تحل ذبيحة المجوسي والوثني والمرتد، ولا ذبيحة من دخل في دين اليهود والنصارى بعد النسخ والتبديل، أو شككنا أنه دخل فيه بعد النسخ والتبديل أو قبله؛ مثل نصارى بني تغلب.
حواشي الشرواني (1/ 127)
تتمة: يكره استعمال أواني الكفار وملبوسهم وما يلي أسافلهم أي مما يلي الجلد أشد وأواني مائهم أخف وكذلك المسلم الذي ظهر منه عدم تصوبه عن النجاسات ويسن إذا جن الليل تغطية الاناء ولو بعرض عود وألحق به ابن العماد البئر وإغلاق الابواب وإيكاء السقاء مسميا لله تعالى في الثلاثة وكف الصبيان والماشية أول ساعة من الليل وإطفاء المصباح للنوم ويسن ذكر اسم الله على كل أمر ذي بال كردي ومغني وقوله: (أواني الكفار) أي وإن كانوا يتدينون باستعمال النجاسة كطائفة من المجوس يغتسلون ببول البقر تقربا إلى الله تعالى قوله: (وكذلك المسلم الذي الخ) أي كمدمني الخمر والقصابين الذين لا يحترزون عن النجاسة مغني وشيخنا.

Sumber: forsansalaf.com

Amalan Agar Husnul Khotimah dari Al-qutb Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik


Baik dan buruknya manusia itu tergantung di akhir hayatnya. Jika ia mati dalam keadaan membawa iman (husnul khotimah) maka surga akan menjadi tempatnya kelak. Namun, apabila ia mati dalam keadaan berlumuran dosa dan tanpa iman (suul khotimah) maka neraka akan menjadi tempatnya yang abadi. Naudzu billahi min dzalik. Abdullah bin Muthrif mengatakan:
ما من الله على عبد افضل من ان يميته على الاسلام.
Tidak ada anugrah pemberian Allah SWT kepada seorang hamba yang lebih utama dan berharga melebih kematian dalam keadaan Islam.
Semua orang menginginkan meninggal dengan husnul khotimah, meninggal dengan mambawa Iman dan Islam. Ada satu amal yang diajarkan oleh al-Qutub al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik untuk memperoleh khusnul khotimah.
Dalam acara rutinan raukha 3 Jumadal Ula, 1355 H. Pada acara rauhah di Kediama beliau di Gresik, al Habib Abu Bakar bin Muhammad assegaf menuntun orang-orang yang hadir di acara tersebut dengan kalimat jalalah berikut ini:
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَوْجُودْ فِيْ كُلِّ زَمَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَعْبُودْ فِيْ كُلِّ مَكَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَذْكُورْ بِكُلِّ لِسَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَعْرُوفْ بِاْلاِحْسَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِى شَأْن
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْأَمَانْ اَلْأَمَانْ مِنْ زَوَالِ الْاِيْمَانْ
وَمِنْ فِتْنَةِ الشَّيْطَانْ، يَا قَدِيْمَ الْاِحْسَانْ
كَمْ لَكَ عَلَيْنَا مِنْ إِحْسَانْ،
اِحْسَانُكَ الْقَدِيمْ ,يَا حَنَّانْ يَا مَنَّانْ،
يَا رَحِيمُ يَا رَحْمَانْ, يَا غَفُورُ يَا غَفَّارْ، اِغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا
وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينْ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.
Setelah beliau menuntun hadirin dengan dzikir di atas beliau bercerita: ” Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang sholeh dia adalah al-Qodhi Abdullah al-Baghdadiy . Dia berkata : “Aku pernah melihat Nabi Muhammad SAW di dalam mimpi dan beliau terlihat pucat sekali lalu aku berkata kepada Nabi Muhammad SAW : “Kenapa engkau wahai Nabi, wajah engkau pucat sekali ?” Lalu Nabi Muhammad SAW menjawab : “Di malam ini telah meninggal 1.500 orang dari ummat-KU, dua dari mereka meninggal dalam keadaan iman dan sisanya meninggal tanpa membawa iman (su’ul khotimah).”  Aku berkata lagi kepada Nabi Muhammad SAW : “lalu apa kiat-kiat dari engkau untuk orang-orang yang bermaksiat agar mereka meninggal dengan membawa iman?” Nabi Muhammad SAW berkata: “Ambilah kertas ini dan baca isinya, siapa orang membacanya dan membawanya lalu dia memindah dari satu tempat ke tempat yang lain ( menyebarkan dan mengajarkan ) maka termasuk dari golongan-KU dan akan meninggal dalam keadaan membawa iman, akan tetapi siapa orang yang telah mendengarkannya dan dia tidak membacanya, tidak menyebarkannya maka dia lepas dari aku dan akupun lepas darinya.” Seketika itu aku langsung terbangun dari tidurku dan aku lihat kertas tersebut yang telah ada di genggamanku ternyata di dalamnya berisi tulisan yang penuh barokah , isi tersebut adalah :
بسم الله الرحمن الرحيم
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَوْجُودْ فِيْ كُلِّ زَمَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَعْبُودْ فِيْ كُلِّ مَكَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَذْكُورْ بِكُلِّ لِسَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَعْرُوفْ بِاْلاِحْسَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِى شَأْن
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْأَمَانْ اَلْأَمَانْ مِنْ زَوَالِ الْاِيْمَانْ
وَمِنْ فِتْنَةِ الشَّيْطَانْ، يَا قَدِيْمَ الْاِحْسَانْ
كَمْ لَكَ عَلَيْنَا مِنْ إِحْسَانْ،
اِحْسَانُكَ الْقَدِيمْ ,يَا حَنَّانْ يَا مَنَّانْ،
يَا رَحِيمُ يَا رَحْمَانْ, يَا غَفُورُ يَا غَفَّارْ، اِغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا
وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينْ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.
Wallahu a’lam.

Sumber: forsansalaf.com

Minggu, 12 Februari 2017

Manfaat Besar Membaca Kalam Salaf


Kalam Habib Umar bin Segaf as-Segaf
Membaca sejarah tentu teramat penting untuk dilakukan. Betapa tidak, kita semua merupakan bagian dari sejarah yang terus bergulir bersama detik demi detik kehidupan. Kita semua perlu bercermin pada sejarah. Sejarah menawarkan opsi kepada diri kita untuk menjadi pribadi yang sukses atau gagal. Kalau ingin sukses, hendaknya kita meneladani langkah-langkah para tokoh sejarah yang dahulu meraih kesuksesan. Sebaliknya, kalau kita sama sekali tidak ingin menjadi orang sukses, kita boleh berbuat apa saja sesuka hati seperti halnya orang-orang yang hidupnya sia-sia.
Oleh karena itu, Imam Sufyan bin Uyainah berkata: “Manakala sejarah orang-orang shaleh disebut, maka rahmat-Nya turun.” Dari sini kita bisa memafhumi betapa sejarah hidup kaum shalihin merupakan salah satu wasilah atau perantara yang bisa mengantarkan kita kepada rahmat Yang Maha Kuasa. Sejarah mereka adalah cahaya yang mampu membimbing kita kepada kesuksesan hakiki, yakni menggapai ridha Allah SWT.
Bila membaca sejarah orang-orang shaleh dapat memberikan faedah ukhrawi yang sangat besar, maka mencatat sejarah mereka jauh lebih berfaedah lagi. Mencatat sejarah para auliya dan shalihin pada hakikatnya sama saja dengan menyebarkan dan mengabadikan nilai-nilai perikehidupan mereka. Berikut penuturan Habib Umar bin Segaf as-Segaf, tokoh sufi besar di Sewun Hadramaut, mengenai pentingnya mencatat serta membaca sejarah kaum shalihin:
Ketahuilah bahwasanya hal paling bermanfaat bagi seorang salik (orang menempuh jalan sufisme) yang sadar serta paling penting guna mengingatkan atau menyadarkan orang yang lalai adalah mengenang perjalanan hidup orang-orang shaleh, baik yang hidup di masa lampau mau pun yang hidup di masa akhir. Lebih khusus lagi orang-orang shaleh yang hidup belakangan ini, sebab mereka menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT di masa ketika orang-orang telah berpaling. Mata hati mereka dinyalakan oleh Allah SWT sewaktu seluruh mata hati telah menjadi buta. Mereka zuhud dan merasa cukup dengan rejeki sedikit tatkala kerakusan dan ketamakan merajalela di dunia ini.
Syekh Fadhal pernah berpesan kepada sebagian muridnya: “Catatlah kisah-kisah mengenai mereka (kaum shalihin) sebab hal itu mampu menghidupkan hati dan melebur dosa-dosa.”
Imam Ahmad bin Zein al-Habsyi berkata: “Pemahaman adalah cahaya yang terbit di dalam hati. Tiada akan dikaruniai pemahaman ini kecuali orang yang kerap duduk dengan kaum shalihin dan menelaahi kitab-kitab mereka.”
Guru para guru, yakni Syekh Zaruq pernah berkata: “Apabila kaum shalihin disebut di dalam suatu majelis, maka rahmat akan turun. Dari rahmat ini Allah SWT menciptakan awan yang bakal jatuh sebagai hujan di bumi orang-orang kafir. Nah, setiap orang kafir yang minum tetesan air hujan ini bakal masuk Islam…”
Sebagian kaum arifin berkata: “Di antara kewajiban murid kepada guru adalah memelihara ilmu-ilmu dan faedah-faedah yang ia dapat, kemudian menyampaikannya kepada generasi berikutnya sehingga mereka dapat mengambil faedah itu. Para guru pun memperoleh pahala yang melimpah dari setiap orang yang mengambil faedah dari ilmu mereka. Dengan begitu, bisa diketahui bahwa setiap keistimewaan telah dilimpahkan Allah SWT kepada para guru ini dan nama mereka akan terus disebut. Betapa banyak nama ulama yang tenggelam sepeninggal mereka. Betapa banyak llmu mereka yang terlupakan. Ada sebaris syair yang mengungkapkan:
Rahasia-rahasia di dalam zawiyah sirna
Tiada seorang pun yang mengingatnya
Karomah para wali menghilang pula
Bila buku-buku tak mencatatnya
Dari kasidah ini aku menggubah syair,
Karena lalai, betapa banyak hal yang sirna dari kita
Dengan menjaganya, akan lestari syiar-syiar untuk kita
Dikatakan pula bahwa apa yang tertulis bakal terjaga dan apa yang terlantar akan hilang. Apa yang ditulis bakal lestari dan apa yang diabaikan bakal lepas. Disebutkan dalam atsar (perkataan sahabat nabi) bahwasanya orang yang mencatat sejarah seorang wali akan berkumpul dengan sang wali yang dicatat di hari kiamat kelak. Barangsiapa membaca nama wali dalam kitab sejarah dengan disertai perasaan cinta, maka ia seolah-olah telah menziarahinya. Barangsiapa menziarahi wali, maka Allah SWT menghapus dosanya selama ia tidak mengusik sang wali dalam ziarahnya atau mengganggu seorang muslim dalam perjalanan ziarahnya. Gangguan itu akan membatalkan fadhilah ziarah.
Sebuah riwayat menuturkan bahwa barangsiapa menulis sejarah seorang mukmin, maka ia seolah-olah menghidupkannya. Barangsiapa membaca sejarah seorang mukmin, maka ia seolah-olah menziarahinya. Barangsiapa menghidupkan seorang mukmin, maka ia seolah-olah menghidupkan seluruh umat manusia. Ini adalah fadhilah menelaahi sejarah seorang mukmin. Bagaimana dengan sejarah tokoh-tokoh yang berkat menyebut nama mereka saja rahmat Allah SWT diturunkan dan dosa-dosa terampuni?
Syekh Fadhal berkata: “Barangsiapa shalat di belakang orang yang diampuni, maka dosanya diampuni juga. Barangsiapa makan bersama orang yang diampuni, maka dosanya diampuni juga. Barangsiapa duduk bersama orang-orang shaleh, maka semangatnya pada ketaatan bertambah.”
Sementara itu para ulama berkata: “Bila kamu tidak bisa menjumpai mereka, maka kamu bisa menghidupkan hati dan bashirah (mata hati) dengan kalam-kalam mereka.”
Habib Abdullah bin Alwi al-Hadddad bersyair:
Sungguh, membicarakan para kekasih bisa mengobati..
Hati dari penyakit kronis yang menjangkiti…
Andai aku tak bisa dekat atau bersua para kekasih
Maka menyebut mereka adalah pelipur dari rasa sepi di hati
Mengingat mereka adalah kesenangan dan kedamaianku
Dengannya hatiku bersih dan bathinku jadi jernih…

sumber: forsansalaf.com

Sekilas Tentang Imam Mahdi


Pertanyaan
Siapakah Imam Mahdi sebenarnya, dan benarkah ia adalah salah satu keturunan Nabi SAW?
Jawab:
Menurut Imam Suyuthi, Imam Mahdi  adalah Pemimpin kaum muslim di akhir zaman. Beliau merupakan keturunan Rasulullah saw melalui jalur sayidatuna Fatimah. Beliau akan keluar dari Timur dan dibaiat di Mekah kemudian tinggal di Baitul Maqdis selama 7 tahun. Dalam masa kepemerintahan beliau tersebar keamanan dan keadilan setelah sebelumnya bumi dikuasai oleh kedzoliman.
Di masa Imam Mahdi Dajjal muncul dan diperangi. Nabi Isa pun muncul dari menara putih di Damaskus. Nabi Isa AS membantu Imam Mahdi untuk mengalahkan Dajal. Nabi Isa lah yang membunuh dajjal. Setelah itu Nabi Isa menikah, dan mempunyai anak, naik haji dan meninggal serta dimakamkan di dekat makam Nabi SAW.
Wallahu a`lam
Referensi:
الحاوي للفتاوي ـ للسيوطى (1/  365)
والذي ترجح عندي من أكثر الأحاديث أنه غيره . وأنه خليفة يقوم في آخر الزمان . وأنه من ولد فاطمة وقد ثبت في أحاديث أنه يخرج من قبل المشرق . وأنه يبايع له بمكة بين الركن والمقام . وأنه يدخل بيت المقدس . وأنه يمكث سبع سنين . وأن يملأ الأرض عدلاً ، وفي بعض الروايات بسند ضعيف أن الناس يقتتلون على الملك فينادي مناد من السماء أميركم فلان فيبايعون له ، ولم يقع شيء من ذلك إلى الآن فبطل قول من قال : إنه موجود الآن بالمغرب ، وفي الأحاديث أن عيسى عليه السلام ينزل في حياته فيسلم المهدي الأمر له . ونزول عيسى عليه السلام مؤقت بوقت وهو خروج الدجال فإنه ينزل في أيامه ويقتله ، وورد في الحديث أنه يمكث سبع سنين وفي رواية أربعين سنة وأنه يتزوج ويولد له ويحج له ويدفن عند النبي صلى الله عليه وسلّم ، ولم ترد تسمية ولده ، وفي الحديث أيضاً أنه ينزل عند المنارة البيضاء شرقي دمشق . وأما شد البغلة كل جمعة فلا أصل له ، ونزوله قبل يأجوج ومأجوج فإنهم يخرجون في أواخر أيامه . وأما طول يأجوج ومأجوج ففي أثر أخرجه ابن المنذر عن ابن
عمدة القاري (8/  173)
وقد ثبت في أحاديث الدجال أنه يخرج بعد خروج المهدي وأن عيسى يقتله إلى غير ذلك فما وجه إنذار الأنبياء أمتهم عنه وأجيب بأن المراد به تحقيق خروجه يعني لا يشكون في خروجه فإنه يخرج لا محالة ونبهوا على فتنته فإن فتنته عظيمة جدا تدهش العقول وتحير الألباب مع سرعة مروره في الأرض وقلة مكثه
عون المعبود شرح سنن أبي داود) (9/  1321)
وَاعْلَمْ أَنَّ الْمَشْهُور بَيْن الْكَافَّة مِنْ أَهْل الْإِسْلَام عَلَى مَمَرّ الْأَعْصَار أَنَّهُ لَا بُدّ فِي آخِر الزَّمَان مِنْ ظُهُور رَجُل مِنْ أَهْل الْبَيْت يُؤَيِّد الدِّين وَيُظْهِر الْعَدْل وَيَتَّبِعهُ الْمُسْلِمُونَ وَيَسْتَوْلِي عَلَى الْمَمَالِك الْإِسْلَامِيَّة وَيُسَمَّى بِالْمَهْدِيِّ ، وَيَكُون خُرُوج الدَّجَّال وَمَا بَعْده مِنْ أَشْرَاط السَّاعَة الثَّابِتَة فِي الصَّحِيح عَلَى أَثَره ، وَأَنَّ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَام يَنْزِل مِنْ بَعْده فَيَقْتُل الدَّجَّال ، أَوْ يَنْزِل مَعَهُ فَيُسَاعِدهُ عَلَى قَتْله ، وَيَأْتَمّ بِالْمَهْدِيِّ فِي صَلَاته .
المسالك في شرح موطأ مالك (7/  315،)
 ثم يجئ عليه عيسى بن مريم من قبل المغرب مصدقا لمحمد صلى الله عليه وسلم وعلى ملته فيقتل الدجال ثم انما هو قيام الساعه وقيل انه ينزل عند المناره البيضاء بدمشق وفى العتبيه عن مالك قال بينما الناس بلد اذا يسمعون الاقامه يريد الصلاه فتغشاهم غمامه فاذا عيسى بن مريم قد نزل نكته قال الامام واجمعت العلماء ان خروج المهدى حق لاشك فيه ولا ريب وان خروجه يكون قبل خروج الدجال وقبل نزول عيسى بن مريم فيفتش المهدى فلا يوجد فينزل عيسى بن مريم وقد خرج ابو داود عن النبى عليه السلام قال لو لم يبق من الدنيا الا يوم قال زائده لطول الله ذلك اليوم حتى يبعث الله فيه رجلا منى او من اهل بيتى يواطئ اسمه اسمى واسم ابيه اسلم ابى يملا الارض قسطا وعدلا كما ملئت جورا وظلما وفى حديث سفيان لا تذهب او لا تنقضى الدنيا حتى يملك العرب رجل من اهل بيتى يواطئ اسمه اسمى ومن الحديث الثابت الصحيح عن سعيد بن المسبب عن ام سلمه قالت
 sumber: forsansalaf.com