Sabtu, 28 Januari 2017

Mengapa Doa Tidak Kunjung Dikabulkan?


Tiga penyebab doa-doa kita tidak di-ijabah oleh Allah swt
1- mengkonsumsi yang tidak halal 
2- berbuat dosa. 
3- matinya hati.
Oleh sebab itu, agar doa bisa dikabulkan kita harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut: 
Pertama, menyeleksi makanan yang akan masuk ke dalam tubuh kita. Langkah ini adalah suatu keharusan karena di antara kunci dari diterimanya amal ibadah kita dan di ijabahnya doa-doa kita adalah tidak makan dan minum kecuali dari rezeqi yang halal. Nabi Muhammad saw pernah diminta oleh sahabat Sa’ad Bin Abi Waqos untuk mendoakannya agar menjadi hamba yang selalu di-ijabah doanya oleh Allah swt: “Wahai Rosulullah doakan aku agar Allah swt menjadikan aku hamba yang selalu di ijabah doanya !” Nabi Muhammad saw menjawab : “Perbagus makananmu! Makanlah yang halal maka doa kamu bakal diijabah oleh Allah swt.” 
فقام سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه فقال: يا رسول الله، ادع الله أن يجعلني مستجاب الدعوة. فقال: يا سعد ، أطب مطعمك، تكن مستجاب الدعوة،  
Dikisahkan bahwa dahulu di zaman Nabi Musa ada seorang hamba yang tenggelam di dalam doanya. Ketika melihat hamba tersebut, Nabi Musa merasa kasihan lalu beliau bermunajat kepada Allah SWT, “Wahai Allah…kenapa engkau tidak mengabulkan doa hamba-Mu tersebut?” Allah mewahyukan kepada Nabi Musa, “Wahai Musa, seandainya dia menangis tersedu-sedu di dalam doanya sampai jiwanya melayang dan mengangkat tangannya sampai menyentuh langit, maka aku tetap tidak akan mengabulkannya!” Nabi Musa bertanya, “Apa salahnya wahai tuhan-ku?” Allah SWT mejawab, “Karena perutnya penuh dengan sesuatu yang haram, dan pakaian yang ia kenakan saat ini untuk berdoa kepada-Ku adalah hasil dari haram dan di dalam rumahnya ada barang haram.” 
Kedua, sebelum kita berdoa hendaknya kita tobat dari segala bentuk maksiat dan berikrar tidak akan mengulanginya lagi. Ulama salaf kita berpesan, “Janganlah kamu merasa diperlambat terkabulnya doa sedangkan kamu telah menutup jalan terkabulnya dengan maksiat-maksiatmu”
 قال بعض السلف : لا تستبطئ الاجابة وقد سددت طرقها بالمعاصى  
Ketiga, penyebab doa tidak dikabulkan oleh Allah SWT adalah hati yang mati. Adapun penyebab hati mati menurut Ibrohim bin Adham ada 10 :
1- Kalian mengenal dan tahu Allah SWT adalah tuhan tapi kalian tidak memberikan hak-Nya Allah SWT ( ibadah tidak ikhlas ).
2- Kalian mengaku cinta Nabi Muhammad SAW tapi kalian tinggalkan sunnahnya.
3- Kalian membaca Al-Qur’an tapi kalian tidak mengamalkan isi kandungannya.
4-  Kalian sering mengkonsumsi nikmat-Nya tapi kalian tidak mensyukuri nikmat-nikmat itu.
5-  Kalian berkata setan adalah musuh kalian tapi kalian tidak menentang ajakannya.
6-  Kalian berkata syurga itu adalah benar adanya tapi kalian tidak beramal agar memasukinya.
7-  Kalian berkata neraka itu adalah benar adanya tapi kalian tidak lari darinya ( masih suka bermaksiat ).
8-  Kalian berkata kematian itu pasti datang tapi kalian tidak bersiap-siap untuk kematian.
9- Kalian bangun dari tidur langsung sibuk dengan aib-aib manusia dan kalian lupa dengan aib-aib kalian sendiri.
10-  Kalian sering memakamkan orang yang mati di antara kalian akan tetapi kalian tidak mengambil pelajaran dengan kematian itu.
Wallahu a’lam.

sumber: forsansalaf.com

Jumat, 27 Januari 2017

Memberikan Daging Aqiqoh Pada Non Muslim


PERTANYAAN :
Mau tanya, bolehkah bolehkah hidangan atau daging Akikah kita berikan kepada orang selain muslim…sukron sebelumnya
JAWABAN :
Hukum pembagian daging akikah sama dengan pembagian daging kurban. Dalam pembagian daging kurban terdapat khilaf tentang bolehnya membagikan daging untuk non muslim.
Menurut pendapat yang kuat tidak boleh memberikan sedikit pun bagian hewan untuk non muslim. Baik kurban sunah atau kurban wajib (karena nazar atau ditentukan).
Ada pendapat lemah yang menyatakan boleh memberikan bagian hewan kepada non muslim dengan syarat kurbannya adalah kurban sunah dan non muslimnya termasuk orang fakir miskin.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa jika non muslim tersebut berkecukupan maka tidak ada khilaf tentang tidak bolehnya membagikan bagian dari akikah kepada non muslim. Begitupula jika akikahnya adalah akikah yang wajib karena semisal nazar.
Apabila akikahnya adalah sunah dan non muslimnya fakir maka di sini ada khilaf. Pendapat kuat mengatakan tidak boleh dan ada pendapat yang menyatakan boleh. Yang lebih baik, jika ingin memberi kepada non muslim hendaknya disediakan hidangan lain selain hidangan akikah.
Referensi :



المجموع شرح المهذب – شجرة العناوين )8(427/
ويستحب أن يأكل منها ويهدي ويتصدق لحديث عائشة ولانه إراقة دم مستحب فكان حكمها ما ذكرناه كالاضحية
تحفة المحتاج في شرح المنهاج )41/ 146()قَوْلُهُ : وَلَا يُصْرَفُ شَيْءٌ مِنْهَا لِكَافِرٍ عَلَى النَّصِّ ) قَالَ فِي شَرْحِ الْعُبَابِ كَمَا نَقَلَهُ جَمْعٌ مُتَأَخِّرُونَ وَرَدُّوا بِهِ قَوْلَ الْمَجْمُوعِ وَنَقَلَهُ الْقَمُولِيُّ عَنْ بَعْضِ الْأَصْحَابِ وَهُوَ وَجْهٌ مَالَ إلَيْهِ الْمُحِبُّ الطَّبَرِيُّ أَنَّهُ يَجُوزُ إطْعَامُ فُقَرَاءِ الذِّمِّيِّينَ مِنْ أُضْحِيَّةِ التَّطَوُّعِ دُونَ الْوَاجِبَةِ أَيْ كَمَا يَجُوزُ إعْطَاءُ صَدَقَةِ التَّطَوُّعِ لَهُ  وَقَضِيَّةُ النَّصِّ أَنَّ الْمُضَحِّيَ لَوْ ارْتَدَّ لَمْ يَجُزْ لَهُ الْأَكْلُ مِنْهَا وَبِهِ جَزَمَ بَعْضُهُمْ وَأَنَّهُ يَمْتَنِعُ التَّصَدُّقُ مِنْهَا عَلَى غَيْرِ الْمُسْلِمِ ، وَالْإِهْدَاءُ إلَيْهِ ا هـ

sumber: forsansalaf.com

Nabi Adam dan Nabi Muhammad SAW, Mana yang Utama?


Sebagian orang mengira Nabi Adam lebih utama daripada Rasulullah Saw. karena para malaikat diperintahkan oleh Allah swt untuk sujud kepada Nabi Adam dan tidak diperintah sujud kepada Nabi Muhammad saw.
Kami menjawab.
1- Sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam tidak bisa dijadikan dasar untuk pengunggulan Nabi Adam atas Nabi Muhammad saw dengan dalil sabda Nabi Muhammad saw “Adam dan semua makhluk setelahnya di bawah naungan benderaku nanti di hari kiamat.”
2- Sebelum Allah swt memerintahkan para malaikat bersholawat kepada Nabi Muhammd saw Allah swt terlebih dahulu bersholawat kepada Nabi Muhammad saw, maka ini lebih hebat dari pada sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam.
3- Allah swt memerintahkan para malaikat sujud kepada Nabi Adam itu karena adab, lain halnya ketika Allah swt memerintahkan para malaikat untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad saw, itu karena ibadah.
4- Sholawat para malaikat kepada Nabi Muhammad saw bukan sekali aja akan tetapi terus sampai hari kiamat. Adapun sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam itu dilakukan sekali aja.
5- Sesungguhnya yang sujud kepada Nabi Adam adalah hanya para malaikat Allah swt, Sedangkan yang bersholawat kepada Nabi Muhammad saw adalah Allah swt kemudian Allah swt memerintahkan para malaikat-Nya dan hamba-hamba-Nya yang beriman.
6- Para malaikat diperintahkan oleh Allah swt untuk sujud kepada Nabi Adam karena ada NUR Nabi Muhammad saw di dahi Nabi Adam.
Mudah-mudahan bermanfaat.
Wallahu a’lam.
( jawahirul-bihar.hal.159 )

sumber: forsansalaf.com

Hukum Wanita Haid Masuk Masjid


Pertanyaan :
Bagaimana hukum seorang wanita yang sedang haid memasuki masjid?
Karena ada beberapa ulama yang mnyebut boleh ada juga yang menyebut tidak boleh bahkan menentang, karena sudah ada penjelasannya di kitab-kitab fiqih. Mohon penjelasannya.
Jawaban :
Masuk masjid itu ada dua gambaran:
  1. Lubsu (berdiam) yaitu berdiam walau sebentar dalam masjid atau berjalan berputar-putar.
  2. Ubur (lewat) yaitu masuk dari satu pintu dan keluar dari pintu lainnya.
Wanita haid tidak diperkenankan lubtsu di masjid walau pun ia merasa pasti tidak akan mengotorinya. Disamakan denganberdiam di masjid adalah mondar-mandir tanpa diam di dalam masjid. Itu juga dilarang bagi wanita yang sedang haid.
Sedangkan Ubur (lewat) boleh dengan syarat tidak takut darah haidnya mengotor masjid. Jadi apabila wanita haid tidak khawatir mengotori masjid, tidak apa melewati masjid tapi hukumnya makruh.
Referensi:
مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج – (ج 2 / ص 32)
( وَيَحْرُمُ بِهِ ) أَيْ بِالْحَيْضِ ( مَا حَرُمَ بِالْجَنَابَةِ ) مِنْ صَلَاةٍ وَغَيْرِهَا ؛ لِأَنَّهُ أَغْلَظُ ، وَيَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ أَغْلَظُ مِنْهَا أَنَّهُ يَحْرُمُ بِهِ مَا يَحْرُمُ بِهَا ( وَ ) أَشْيَاءُ أُخَرُ : أَحَدُهَا ( عُبُورُ الْمَسْجِدِ إنْ خَافَتْ تَلْوِيثَهُ ) صِيَانَةً لِلْمَسْجِدِ عَنْ النَّجَاسَةِ ، فَإِنْ أَمِنَتْهُ جَازَ لَهَا الْعُبُورُ كَالْجُنُبِ لَكِنْ مَعَ الْكَرَاهَةِ كَمَا فِي الْمَجْمُوعِ ، وَلَا خُصُوصِيَّةَ لِلْحَائِضِ بِهَذَا ، بَلْ كُلُّ مَنْ بِهِ نَجَاسَةٌ يُخَافُ تَلْوِيثُ الْمَسْجِدِ مِنْهَا مِثْلُهَا كَمَنْ بِهِ سَلَسُ الْبَوْلِ وَاسْتِحَاضَةٌ وَمَنْ بِنَعْلِهِ نَجَاسَةٌ رَطْبَةٌ ، فَإِنْ أَرَادَ الدُّخُولَ بِهِ فَلْيُدَلِّكْهُ قَبْلَ دُخُولِهِ

 sumber: forsansalaf.com

Tiga Kunci Keharmonisan


Kalam Habib Abdullah bin Husein bin Thahir
Orang yang taat kepada Allah SWT dipastikan bakal beruntung. Ada pun orang yang bermaksiat dengan mengingkari keesaan-Nya, kesempurnaan sifat-Nya, mengingkari diutusnya para nabi beserta kitab suci yang mereka bawa, mengingkari sebagian dari Al-Quran meski hanya sedikit, mengingkari kebangkitan setelah kematian, mengingkari hukum-hukum syariat yang telah disepakati bersama sedang ia mengetahuinya, atau menghinakan segala sesuatu yang mesti diagungkan seperti nabi dan mushaf, bisa menjadi kafir yang darahnya halal ditumpahkan. Ia bakal terkukung selamanya di dalam neraka apabila tidak lekas bertobat.
Barangsiapa berbuat dosa besar atau melakukan dosa kecil secara terus menerus, maka dia adalah orang fasik yang tak bisa diterima kesaksiannya. Ia akan terjerumus ke dalam siksa apabila tidak bertobat dan tidak dimaafkan oleh Allah SWT. Urusannya secara mutlak berada di dalam genggaman-Nya. Namun meski begitu, ia masih memiliki harapan untuk dimaafkan.
Barangsiapa meremehkan adab, maka ia akan terhalau dari sunnah. Barangsiapa meremehkan sunnah, ia akan terhalau dari fardu. Barangsiapa meremehkan fardu, maka ia akan terhalau dari iman. Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada keadaan akhir seseorang. Orang yang tak putus berbuat maksiat sangat rentan mati dalam keadaan su’ul khatimah, yaitu mati tanpa membawa iman. Semoga kita terlindung dari yang demikian. Kita memohon kepada Allah SWT agar senantiasa diselamatkan dari berbagai rupa bencana.
Perbuatan makruh kerap memancing orang untuk berbuat haram. Berikut ungkapan bijak yang patut direnungkan agar kita selamat dari perbuatan makruh: “Seyogyanya setiap insan memperhatikan apa yang mesti diperbuatnya tatkala maut menghampirinya, kemudian ia beristikamah pada perbuatan itu. Sesungguhnya ajal datang kepada seseorang sesuai keadaan yang disenanginya.”
Ketahuilah, tazkiyah adalah menyucikan diri dari kotoran-kotoran dhahir dan batin. Tazkiyah adalah takwa yang sempurna. Ada pun tadsiyah merupakan kebalikannya. Nafsu memang lebih menyukai hal-hal yang serba instan tanpa memperhitungkan resiko yang mengancam. Wajar saja, sesuai watak dasariyahnya yang buruk, nafsu cenderung tergesa-gesa dalam segala hal, ditambah dengan bujuk rayu setan yang menggoda. Orang yang beroleh taufik akan senantiasa cenderung mengendalikan nafsu dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Ia memaksa nafsunya mengamalkan ilmu-ilmu itu. Memang, upaya yang demikian akan terasa begitu lama. Akan tetapi, bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat, maka hakikatnya hanya sebentar saja. Anda takkan kuasa menempuhnya kecuali bila anda memiliki kesabaran.
Sabar dalam menjalankan ibadah-ibadah fardu dan meninggalkan perbuatan haram adalah wajib. Ada pun bersabar dalam melaksanakan kesunnahan adalah sunnah. Sabar tatkala menghadapi musibah dengan meninggalkan keluh-kesah dan tidak melimpahkan keburukan kepada Allah SWT adalah wajib. Ada pun yang lebih dari itu termasuk sunnah.
Bersyukur dengan menyadari bahwa segala nikmat datang dari Allah SWT adalah wajib. Ada pun memendam rasa itu dalam hati di setiap kondisi merupakan pondasi yang kokoh dalam agama. Melafalkan rasa syukur dengan ucapan, yakni memuji Allah SWT atas segala keindahan aktivitas-Nya, pada dasarnya adalah fardu. Di antara wujud pelafalan rasa syukur itu adalah ucapan Alhamdulillah. Ada pun mengungkapkan rasa syukur dengan perilaku, kadang kala hukumnya fardu, (seperti shalat fardu) dan kadang kala hukumnya sunnah.
Ridha atas ketentuan Allah SWT dengan diam dari ucapan-ucapan yang terkesan menyalahkan takdir adalah fardu. Bila sikap ini disertai dengan pengendalian nafsu dan usaha meredamnya, maka ini adalah suatu keutamaan. Lebih utama lagi apabila hal ini dibarengi dengan kelapangan hati atas segala takdir-Nya.
Segala perbuatan dosa berupa maksiat, kemakruhan, atau meninggalkan kewajiban sesungguhnya berlangsung atas ikhtiar hamba. Oleh karena itu hendaknya ia ridha, mengingat perbuatan itu pada hakikatnya adalah takdir Allah SWT. Ia juga mesti membenci perbuatan itu mengingat perbuatan itu tidak disukai dan dilarang Allah SWT. Pada akhirnya, hamba tadi harus menyesali dosa-dosanya karena menentang perintah Allah SWT serta menjerumuskan diri ke dalam siksa-Nya.
Sabar dan syukur adalah dua tiang yang menyangga agama. Bangunan agama takkan pernah lepas dari dua penyangga itu. Tiada perbuatan taat atau meninggalkan maksiat melainkan didasari atas kesabaran. Barangsiapa memohon pertolongan kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh, maka niscaya Allah SWT akan menolongnya. Barangsiapa bertawakal kepada Allah SWT semata, maka Allah SWT akan mencukupinya. Barangsiapa melupakan Allah SWT, maka Allah SWT akan membuatnya lupa pada dirinya sendiri.
Merenung
Di setiap keadaan, seorang hamba haruslah memiliki tiga hal yang menjadi kunci keharmonisan dalam kehidupan beragama: Pertama, niat. Setiap orang seharusnya berbuat atau tidak berbuat hanya demi Allah SWT semata. Perasaan hatinya harus jujur dalam hal ini. Ia harus menjaga niat itu hingga selesainya amal. Perbuatan-perbuatan mubah hendaknya diniati untuk menjaga diri dari dosa, melaksanakan hak, memperkuat diri untuk ketaatan, menyegarkan pikiran dan lain sebagainya. Ada pun niat di dalam melakukan kemaksiatan, sungguh tidak bermanfaat sama sekali.
Kedua, merenungi keajaiban-keajaiban ciptaan Allah SWT di semesta langit dan bumi-Nya yang berwujud kerajaan-kerajaan dan planet-planet, terang dan gelap, hewan dan tumbuh-tumbuhan, bebatuan, serta segala yang bisa dijangkau panca indera manusia. Ada pun ciptaan-ciptaan Allah SWT yang tak terjangkau panca indera manusia sesungguhnya lebih banyak dan lebih luas. Seorang hamba yang muslim mestinya merenungi semua itu beserta hikmah-hikmah lembut yang tersirat di dalamnya. Betapa sempurna semua ciptaan Allah SWT. Tiada cacat setitik pun di dalam ciptaan-Nya yang begitu banyak terhampar dan terurai ke dalam berbagai jenis dan rupa. Renungkanlah semua itu di setiap detik kehidupan anda agar anda benar-benar meyakini bahwa sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui dan Maha Kuasa. Tiada sesuatu pun yang menyerupai Allah SWT. Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.
Renungkan pula perihal dekatnya ajal. Sesungguhnya ajal adalah perkara yang tersembunyi, dan ia senantiasa datang dengan tiba-tiba tanpa memperhitungkan usia. Ketika ajal tiba, penyesalan manusia sungguh tiada berguna. Setiap detik dari kehidupan manusia bakal harus diperhitungkan. Apabila waktu-waktunya dipergunakan untuk ketaatan, maka ia bakal menuai pahala kelak. Sebaliknya, apabila waktu-waktu yang pernah dimilikinya dibuang percuma, maka ia bakal merasakan penyesalan yang panjang. Betapa banyak manusia yang berhasil meraih keinginan duniawi akan tetapi raihan itu seolah sia-sia manakala ajal menjemputnya.
Ketiga, seyogyanya seorang hamba muslim mencari dunia hanya sebatas kebutuhan bagi dirinya serta orang-orang yang ditanggungnya berupa makanan, pakaian dan tempat tinggal. Ia harus memiliki sifat qanaah (merasa cukup dan menerima) karena orang yang mengambil dunia melebihi kebutuhannya, pada hakikatnya membinasakan dirinya sendiri tanpa sadar.
Orang yang beruntung adalah orang yang memahami hakikat maut sebagai pintu menuju akhirat. Manusia seperti ini sadar bahwa tumpukan dunia akan berbahaya lantaran kehalalannya berujung hisab dan keharamannya berakibat siksa. Orang orang yang demikian ini akan lebih menggampangkan dunia dan merasa cukup dengan dunianya, layaknya seorang musafir yang membatasi diri dengan perbekalan. Oleh karena itu, seorang hamba muslim hendaknya berzuhud bila mampu, atau ber-qanaah, atau paling tidak bersabar…(*) 

sumber: forsansalaf.com